Perspektif Kebenaran

19.24 Titi Setiyoningsih 0 Comments


https://thane62.files.wordpress.com/2016/04/bridge-of-spies-2015-the-exchange-ending-review-stephen-spielberg.jpg?w=788


Bridge to Spies (2015), film yang disutradarai oleh Steven Spielberg, mengingatkan saya tentang pertanyaan makna kebenaran. Film ini diangkat dari kisah nyata pada masa perang dingin Amerika dan Soviet. Tentang seorang pengacara Amerika, James B. Donovan (Tom Hanks), yang mendapat tugas untuk membela seorang mata-mata Soviet  bernama Rudolf Abel (Mark Rylanve). Sebelumnya Rudolf ditangkap oleh pihak Amerika dan diberi dua pilihan. Pertama, bila Rudolf mau bekerjasama untuk pihak Amerika ia akan dibebaskan dari hukuman dan mendapatkan imbalan. Kedua, jika dia menolak tawaran pertama tadi dia akan diadili dan kemungkingkan besar dihukum mati. Rudolf pun memilih untuk diadili ketimbang harus menghianati negaranya. Bisa ditebak pengadilan Amerika menangani kasus Rudolf hanya sebagai formalitas saja. Bahkan sejak awal sang hakim sudah bersikap tidak obyektif, apa pun pembelaan Rudolf rakyat Amerika tentu menganggap mata-mata Soviet pantas dihukum mati. Donovan yang ditunjuk sebagai pengacara Rudolf tentu mengadapi tekanan batin sekaligus sosial. Donovan ingin bekerja secara profesional sebagai seorang pengacara tapi konsekuensinya masyarakat Amerika akan menuduhnya sebagai seorang penghianat. Bahkan ketika agen CIA berusaha mencari informasi Rudolf kepada Donovan, pengacara itu tetap kukuh untuk tak membeberkan hasil percakapannya dengan si client. Dari sinilah awal mula konflik yang terjadi dalam film.
Muncul suatu pertanyaan akan sikap yang diambil oleh Rudolf dan Donovan: salahkah pilihan mereka? Mereka dibenci rakyat Amerika kerena Rudolf yang ingin setia pada negaranya dan Donovan yang ingin bersikap obyektif dan profesional menjalankan tugasnya. Misalnya saja kita sebagai rakyat Indonesia mendapat berita seorang mata-mata negara tetangga ditangkap oleh badan intel negara. Mata-mata negara tetangga itu menolak bekerja sama dan tetap memilih tidak membocorkan rahasia negaranya. Lalu apa yang muncul dalam benak setiap warga Indonesia? Mata-mata negara tetangga dianggap bersalah karena tidak mau membocorkan informasi negaranya? Pengacara asal Indonesia yang membela mata-mata dianggap penghianat? Akankah pengadilan negara kita bersikap adil? Lalu di berbagai media sosial akan ada banyak status dan komentar nyinyir tentang negara tetangga, si mata-mata, dan sang pengacara tadi. Saya juga tidak menjamin diri saya akan bijak menanggapi kasus tersebut. Saya bisa membayangkan hal pertama yang saya rasakan jika mendapat berita tadi adalah geram dengan negara tetangga, muak dengan mata-mata negara tetangga yang tertangkap itu, juga muak dengan pengacacara yang mati-matian membela si mata-mata. Salahkah saya?
Tengoklah para tokoh cerita wayang kita, di antaranya ada Kumbakarna (Ramayana) dan Bhisma (Mahabarata). Sejak awal Kumbakarna tahu bahwa yang dilakukan oleh kakaknya (Rahwana) salah tapi ia tetap maju ke medan perang melawan kubu Rama. Salahkah Kumbakarna? Ia maju ke medan perang untuk membela tanah airnya dan kaumnya. Lalu Bhisma yang memilih berada di pihak Kurawa dalam perang Baratayudha. Ada juga Karna yang tetap mengabdi kepada Duryudana, sahabat yang selama ini memberikannya perlindungan dan penghidupan. Masihkah kita menganggap para tokoh tadi sebagai sosok, katakanlah “musuh kebaikan”? Lalu apakah yang dilakukan Wibisana bisa dianggap benar? Ia berperang melawan negaranya sendiri. Sedangkan ia hidup, tumbuh, makan dan minum dari tanah negaranya. Kita kembali ke tokoh Rudolf. Apabila dia memilih bekerjasama dengan Amerika dan itu berarti menghianati negaranya lalu keputusannya itu dianggap benar? Benar menurut siapa? Jika salah, salah menurut siapa? Adakah salah atau benar dapat diketahui dengan pasti dalam kerumitan hidup manusia? Lalu apa hak kita untuk memberikan bermacam label pada sesama manusia? Toh sama-sama manusia, kecuali kalau….

0 komentar:

Pilihan Transportasi dari Banjarnegara ke Surakarta

07.26 Titi Setiyoningsih 9 Comments




Salah satu pertanyaan orang yang hendak merantau biasanya adalah “Kalau mau ke sana enaknya naik apa ya?” Maksud kata “enak” tersebut adalah kaitannya dengan tingkat kenyaman, waktu, dan biaya. Setiap orang tentu memiliki pertimbangan masing-masing. Nah, kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang berbagai transportasi yang bisa digunakan dari Kabupaten Banjarnegara ke Kota Surakarta (Solo) atau pun sebaliknya.
Pada tahun 2011, teman-teman saya kebanyakan melanjutkan kuliah di Jogja atau Semarang mengikuti jejak para kakak kelas. Oleh sebab itu sangat sedikit atau bahkan waktu itu tidak ada kakak kelas yang dapat dimintai informasi tentang kehidupan di Solo. Ditambah saya tidak punya sanak saudara di sana dan baru pernah sekali ke kota itu saat masih siswa SD. Jadi saya kira informasi berikut ini dapat membantu para perantau dari Banjarnegara yang hendak ke Solo. Ada 6 opsi transportasi yang pernah saya coba dari Banjarnegara menuju Solo.
1.      Jasa travel
Naik mobil jasa travel merupakan pilihan paling aman dan nyaman untuk pemula. Mobil travel tentu mau mengantar penumpangnya tepat di tempat tujuan. Hanya saja travel dari Banjarnegara ke Solo saat itu (tahun 2011/2012) hanya ada 1 pemberangkatan, yakni jam 07.00, itu pun harus mengantar dulu penumpang tujuan Jogja. Nanti dari Jogja ke Solo hanya ada 2-3 penumpang saja. Perjalanan menggunakan travel sekitar 8 jam karena sampai Solo biasanya sudah jam 15.00. Saya menggunakan jasa travel hanya ketika masih mahasiswa baru. Durasi yang terlalu lama membuat saya tidak lagi memilih travel. Saat itu biaya jasa travel sekitar Rp 70.000-90.000.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJXZYk0v3OImqk2YNCKyBQDk_uEcX4dwVR6489PxAqIc7tpaJ-Z6tgoYlspIDt2DobZPw3U-20hbAruY8Qbx-GGOBVYkIId1rTg-VkZ6ka-pIU3lFQ11XKKzGM_qE1irseWzq3ZiLt6ZZy/s1600/alamattravel+alamat+travel.jpg

2.      Bus PO Handoyo jurusan Purwokerto-Malang
Bus Handoyo jurusan Purwokerto-Malang ada yang lewat terminal Banjarnegara. Ada dua jam keberangkatan bus ini, yakni pukul 15.00 dan 15.30. Nantinya sampai di Terminal Tirtonardi Solo sekitar pukul 22.00, jadi waktu perjalanannya kurang lebih 7 jam. Busnya ber-AC dan nyaman, jenis bus eksekutif. Tarif dari Banjarnegara-Solo adalah Rp 70.000 (2013-2017). Bus Handoyo ini nanti rutenya juga lewat Jogja, dan akan berhenti sejenak di agen Wonosobo, agen Temanggung, dan juga Terminal Secang untuk ISOMA waktu magrib. Nah, dari terminal Tirtonardi ke daerah kampus bisa dengan ojek, taksi, transportasi online atau minta dijemput kawan.
Image result for po handoyo banjarnegara-solo
Add caption

3.      Bus jurusan Purwokerto-Solo
Bus kelas ekonomi ini hanya ada satu keberangkatan, yakni jam 07.30 dari Terminal Banjarnegara. Waktu tempuhnya yakni 7 jam, sedangkan tarifnya Rp 50.000 (tahun 2014).
 4.      Bis jurusan Purwokerto-Semarang, dilanjutkan jurusan Semarang-Solo
Bus kelas ekonomi ini ada setiap jam, bahkan ada yang bilang beroperasi 24 jam. Jika hendak ke Solo, maka bilang ke kondektur hendak turun di terminal Bawen. Nanti dari terminal Bawen pindah Bus jurusan Semarang Solo. Tarif dari Banjarnegara-Bawen yakni Rp 35.000 sedangkan Bawen-Solo Rp 15.000 (2013-2016). Durasi waktunya juga sekitar 7 jam.
Image result for bus jurusan purwokerto-solo
Purwokerto-Bawen
Image result for bus jurusan bawen-solo
Bawen-Solo

5.      Kereta Api dari stasiun Purwokerto
Di Banjarnegara tidak ada stasiun kereta. Jika ingin naik kereta harus ke Kota Purwokerto dulu. Butuh waktu 2 jam untuk ke Purwokerto dengan transportasi umum bus jurusan Wonosobo-Purwokerto dengan tarif Rp 20.000. Dari Terminal Purwokerto bisa naik Gojek (tahun 2017 Purwokerto sudah ada Gojek lho) ke Stasiun Purwokerto. Buka aja alamat web https://tiket.kereta-api.co.id lalu pilihlah kereta api sesuai keinginan saudara menuju Solo Balapan atau Puwosari.
Image result for kereta api purwokerto-solo
Add caption
6.      Kendaraan Pribadi
Wah, kalau dengan kendaraan pribadi kita bisa memuaskan diri menikmati pemandangan alam selama perjalanan Banjarnegara-Solo. Di daerah Temanggung, kita akan melewati jalan berkelok-kelok di antara Gunung Sindoro-Sumbing. Pemandangan alamnya sangat indah, perkebunan teh dan sayur terbentang di kanan-kiri jalan. Kalau cuacanya cerah, Sindoro-Sumbing akan tampak menawan di samping kanan dan kiri. Tidak hanya itu, setelah Temanggung bila lewat jalur Kopeng, kita juga akan disuguhi lereng Gunung Merbabu beserta siluet Gunung Merapi di sampingnya. Dijamin perjalanan tidak akan membosankan. Waktu tempuh dengan kendaraan pribadi hanya sekitar 4-5 jam. Kalau perjalanannya malam hari, pemandangan yang indah tadi justru akan terlihat menyeramkan lho ya.

CATATAN TAMBAHAN:
Sekarang sudah ada bus Eka dan Sugeng Rahayu jurusan Purbalingga-Surabaya lewat Banjarnegara. Setiap hari ada total 6 keberangkatan dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00
Harganya Rp. 70.000 total perjalanan 5-7 jam tergantung kecepatan bus dan tingkat kemacetan.

Image result for jalan temanggung antara sindoro sumbing
Merbabu-Sindoro (Temanggung)



Image result for pemandangan jalan kopeng
Jalan lereng Merbabu (Kopeng)
nb: sumber foto berasal situs google.com

9 komentar: