Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

WIDOWS: Salah Satu Film Bagus 2018



Sumber gambar: Wikipedia
     Aku bukan pegawai XXI, bukan pula agen pemasaran dari Hollywood, apalagi produsernya. Aku cuma penonton jelata dari film dengan judul “Widows”. Sebagai penonton biasa aku sangat, saNGAT, SANGAT merekomendasikan film WIDOWS. Film ini baru rilis di Indonesia kemarin, tanggal 07 Desember 2018. Aku yang sudah kepincut sama trailernya, malam tadi langsung ngajak suami nonton. Beruntungnya kami, ternyata ada promo setiap hari Jumat untuk pemilik kartu debit BNI yakni buy one get one. Btw, aku juga bukan team marketingnya BNI. Aku cuma pengin berbagi pengalaman. Promo ini bisa kalian klik di cinemaXXI.com (Promo berlaku hingga April 2019). 
  
Film Widows merupakan adaptasi dari buku, disutradarai oleh McQueen yang pernah menyabet Oscar untuk filmnya yang berjudul 12 Years a Slave (2013). Penulis naskah Widows adalah McQueen dan Gillian Flyn. Kalau kalian pernah baca atau nonton Gone Girl pasti udah enggak ragu lagi sama kemampuan Flyn dalam meramu cerita drama misteri yang plot-nya tak tertebak sampai akhir cerita. Begitu pun film Widows ini. Kolaborasi McQueen dan Flyn berhasil membuat setiap percakapan dan adegan dalam film tak ada yang bisa dilewatkan. Ibaratnya kalau mendaki gunung, ini film track-nya nanjak terus, nggak ada bonus. Sekali meleng, kamu bakal kehilangan bagian penting dalam film. Apalagi di tengah-tengah cerita akan ada kejutan super duper tak terduga. Kece banget pokoknya nih film.
     Menurutku efek kejutan dalam film juga salah satu pertimbangan cerdas McQueen dalam memilih pemeran. Jadi ada salah satu tokoh yang selama ini identik dengan peran yang kebapakan, tanggung jawab, cinta keluarga, dan baik hati lalu tiba-tiba kita sadar McQueen tengah menipu kita. Tokoh yang baik hati tadi itu ternyata adalah dalang dari segala penderitaan para Janda yang berakibat juga pada serangkaian pembunuhan sebelum pemilu. Penggabungan antara konfilk keluarga, politik, ekonomi, ras, dan mafia selalu menjadi kombinasi yang sempurna.
    Kualitas akting para pemain juga tidak diragukan lagi. film ini bisa dibilang bertabur bintang di antaranya ada, Viola Davis, Michelle Rodriguez, Elizabeth Debicki (sepanjang nonton film aku selalu teringat tokoh Sansa Stark GOT kalau lihat Elizabeth), Cyntia Erivo, Collin Farrel, Liam Neeson, dan sederet tokoh yang rasa-rasanya adalah penduduk negeri “Wakanda Forever”. Bagiku yang cuma penonton jelata, akting mereka udah tanpa cela.
     Terakhir, bagi para penggembar film berjenis drama, kejahatan, thriller, dan penuh ketegangan wajib hukumnya nonton film ini mumpung baru tayang di bioskop. Jangan sampai menyesal karena untuk film sebagus ini kurang puas rasanya kalau sekadar nonton di laptop atau tv. Kalau yang merasa isi dompet pas—pasan buat nunggu 12.12 termakan promonya terereeeteetreeeetttt blackpink! Tenang, inget promo hari Jumat tadi itu lho, buy one get one.
Ini dia trailernya.
https://www.youtube.com/watch?v=nN2yBBSRC78

Sekadar info, novel-ku di Wattpad dengan judul Pangeran Senja, udah tamat lho… Klik aja:
https://www.wattpad.com/645344452-pengeran-senja-tamat-prolog


Perspektif Kebenaran


https://thane62.files.wordpress.com/2016/04/bridge-of-spies-2015-the-exchange-ending-review-stephen-spielberg.jpg?w=788


Bridge to Spies (2015), film yang disutradarai oleh Steven Spielberg, mengingatkan saya tentang pertanyaan makna kebenaran. Film ini diangkat dari kisah nyata pada masa perang dingin Amerika dan Soviet. Tentang seorang pengacara Amerika, James B. Donovan (Tom Hanks), yang mendapat tugas untuk membela seorang mata-mata Soviet  bernama Rudolf Abel (Mark Rylanve). Sebelumnya Rudolf ditangkap oleh pihak Amerika dan diberi dua pilihan. Pertama, bila Rudolf mau bekerjasama untuk pihak Amerika ia akan dibebaskan dari hukuman dan mendapatkan imbalan. Kedua, jika dia menolak tawaran pertama tadi dia akan diadili dan kemungkingkan besar dihukum mati. Rudolf pun memilih untuk diadili ketimbang harus menghianati negaranya. Bisa ditebak pengadilan Amerika menangani kasus Rudolf hanya sebagai formalitas saja. Bahkan sejak awal sang hakim sudah bersikap tidak obyektif, apa pun pembelaan Rudolf rakyat Amerika tentu menganggap mata-mata Soviet pantas dihukum mati. Donovan yang ditunjuk sebagai pengacara Rudolf tentu mengadapi tekanan batin sekaligus sosial. Donovan ingin bekerja secara profesional sebagai seorang pengacara tapi konsekuensinya masyarakat Amerika akan menuduhnya sebagai seorang penghianat. Bahkan ketika agen CIA berusaha mencari informasi Rudolf kepada Donovan, pengacara itu tetap kukuh untuk tak membeberkan hasil percakapannya dengan si client. Dari sinilah awal mula konflik yang terjadi dalam film.
Muncul suatu pertanyaan akan sikap yang diambil oleh Rudolf dan Donovan: salahkah pilihan mereka? Mereka dibenci rakyat Amerika kerena Rudolf yang ingin setia pada negaranya dan Donovan yang ingin bersikap obyektif dan profesional menjalankan tugasnya. Misalnya saja kita sebagai rakyat Indonesia mendapat berita seorang mata-mata negara tetangga ditangkap oleh badan intel negara. Mata-mata negara tetangga itu menolak bekerja sama dan tetap memilih tidak membocorkan rahasia negaranya. Lalu apa yang muncul dalam benak setiap warga Indonesia? Mata-mata negara tetangga dianggap bersalah karena tidak mau membocorkan informasi negaranya? Pengacara asal Indonesia yang membela mata-mata dianggap penghianat? Akankah pengadilan negara kita bersikap adil? Lalu di berbagai media sosial akan ada banyak status dan komentar nyinyir tentang negara tetangga, si mata-mata, dan sang pengacara tadi. Saya juga tidak menjamin diri saya akan bijak menanggapi kasus tersebut. Saya bisa membayangkan hal pertama yang saya rasakan jika mendapat berita tadi adalah geram dengan negara tetangga, muak dengan mata-mata negara tetangga yang tertangkap itu, juga muak dengan pengacacara yang mati-matian membela si mata-mata. Salahkah saya?
Tengoklah para tokoh cerita wayang kita, di antaranya ada Kumbakarna (Ramayana) dan Bhisma (Mahabarata). Sejak awal Kumbakarna tahu bahwa yang dilakukan oleh kakaknya (Rahwana) salah tapi ia tetap maju ke medan perang melawan kubu Rama. Salahkah Kumbakarna? Ia maju ke medan perang untuk membela tanah airnya dan kaumnya. Lalu Bhisma yang memilih berada di pihak Kurawa dalam perang Baratayudha. Ada juga Karna yang tetap mengabdi kepada Duryudana, sahabat yang selama ini memberikannya perlindungan dan penghidupan. Masihkah kita menganggap para tokoh tadi sebagai sosok, katakanlah “musuh kebaikan”? Lalu apakah yang dilakukan Wibisana bisa dianggap benar? Ia berperang melawan negaranya sendiri. Sedangkan ia hidup, tumbuh, makan dan minum dari tanah negaranya. Kita kembali ke tokoh Rudolf. Apabila dia memilih bekerjasama dengan Amerika dan itu berarti menghianati negaranya lalu keputusannya itu dianggap benar? Benar menurut siapa? Jika salah, salah menurut siapa? Adakah salah atau benar dapat diketahui dengan pasti dalam kerumitan hidup manusia? Lalu apa hak kita untuk memberikan bermacam label pada sesama manusia? Toh sama-sama manusia, kecuali kalau….

Pertemuan Dua Orang Gila



Aku bertaruh siapa pun yang nonton film garapannya Christoper Nolan bakal berakhir dengan kepala nyut-nyutan sangking mikir terus dari pembukaan sampe tamatnya film. Ya, aku jatuh cinta sama Nolan setelah nonton Inception pas zaman SMA, pikirku waktu itu, “Astaga ini film keren banget!” Dari ide cerita, karakter tokohnya, plot cerita, ending nggantungnya, pokoknya semuanyaaaa bikin klepek-klepek. Lalu aku makin kesengsem setelah nonton Trilogi The Dark Knight, Prestige, Interstellar, Memento. Untuk film-filmnya yang lain masih dalam proses untuk ditonton (better late than never). Bagaimana pun dari film yang udah ku tonton, semua menggambarkan betapa cerdas dan ajaibnya sutradara yang satu ini. Yah, walaupun harus aku akui belum ada yang ngalahin The God Father dalam hidupku.
Kenapa jadi bablas ngomongin Nolan?
Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu aku baru nonton Memento, Tinker Tailor Soldier Spy, Gone with The Wind, Bitvaza Sevastopol, beberapa film lawas yang jauh dari kisah komedi romantis. Terkadang setelah nonton film serius macam tadi, pikiranku haus akan film macam komedi romantis. Jadilah aku kumpulin film-film jenis drama romantis, salah satunya keluaran tahun 2012, Silver Linings Playbook.
Film Silver Linings Playbook  merupakan adapatasi dari novel dengan judul yang sama karya Matthew Quick, disutradarai David O. Russel yang merangkap penulis naskah. Cerita dimulai dari seorang laki-laki bernama Pat (Bradley Cooper) yang menderita bipolar dan dirawat di rumah sakit jiwa. Delapan bulan kemudian, Sang Ibu datang menjemputnya. Pat diperbolehkan pulang dengan beberapa syarat. Sebenarnya Pat dimasukkan ke rumah sakit jiwa setelah memukuli selingkuhan istrinya hingga hampir mati. Atas kejadian itu Pat kehilangan pekerjaan sekaligus istrinya.
Sekembalinya Pat ke rumah, suatu hari ia bertemu sahabat lamanya, Ronnie, yang langsung mengundangnya makan malam. Saat makan malam itulah Pat bertemu dengan adik ipar Ronnie, Tiffany (Jennifer Lawrence), janda yang juga menderita gangguan mental sejak suaminya meninggal. Dari sinilah kehidupan Pat mulai berubah, cerita menjadi semakin menarik dan lucu. Aku tertawa melihat kegilaan Pat, Tifanny, dan orang-orang di sekitar mereka.
Ada banyak adegan yang membuatku tertawa ketika menontonnya. Dimulai dari kemunculan Danny, teman Pat yang selalu mengaku telah dikeluarkan dari rumah sakit jiwa padahal belum. Kelucuan keluarga Pat, ayahnya penggemar tim football Eagle dan masih percaya tahayul ketika memasang taruhan. Aku juga tertawa saat adegan Pat selesai membaca novel karya Hemingway, dia marah-marah mendapati ending cerita novel itu ternyata menyedihkan. Dia protes kenapa Hemingway tidak menulis akhir yang bahagia setelah segala penderitaan para tokohnya? Aku sependapat denganmu, Pat! Sama seperti Pat, aku selalu percaya akan adanya garis-garis perak yang membelah langit kelabu.
Adegan menggelikan juga terjadi ketika pengumuman nilai kompetisi menari. Seluruh keluarga Pat dan Tifanny bersorak ketika skor rata-rata tarian Pat dan Tifanny adalah 5. Para peserta lomba heran karena 5 adalah skor paling jelek dari total nilai 10. Mereka tidak tahu, Ayah Pat baru saja memenangkan taruhan besar karena perolehan skor anaknya itu. Oh ya, dan gerakan dansa mereka… Emmmm…. Hahahahaha.
Melalui film ini kita sedikit bisa memahami apa saja yang dialami oleh orang-orang penderita bipolar. Dari Pat dan Tifanny aku melihat orang-orang gila seperti mereka justru hidup dengan lebih jujur. Mereka tak pernah berpura-pura. Tidak seperti Ronnie, orang waras kebanyakan yang hidup dalam kepura-puraan. Ronnie selalu merasa tertekan dengan hidupnya, pekerjaannya, istrinya, anaknya, cicilan rumahnya, blab bla bla. Sampai di suatu momen Pat dengan bijaksana menasihati Ronnie supaya lebih bersyukur. Selain itu ada lagi yang aku suka dari film ini, yakni ketika kencan pertama Pat dan Tifanny. Setelah membuka diri, Tifanny marah-marah dengan reaksi Pat yang spotan memberikan penilain buruk padanya. Dia bilang, “Aku sudah terbuka kepadamu dan kamu menghakimiku!”
Di sepanjang cerita film ini, kita bisa melihat tanda-tanda bahwa sebenarnya Pat jatuh hati pada Tifanny. Tapi semuanya baru terungkap jelas di akhir cerita ketika Tifanny membaca surat dari Pat. Begini surat Pat untuk Tifanny.
Dear Tifanny,
I know you wrote the letter. The only way you could meet my crazy was by doing something crazy yourself. Thank you. I love you. I knew it the minute I met you. I’m sorry it took so long for me to catch up, I just got stuck
Pat.
Begitu manis pengakuan Pat.
Terkadang memang hanya orang gila yang mampu mengerti kegilaan orang lain. Kegilaan yang bagi sebagian orang justru merupakan suatu kewarasan. Semoga untuk orang-orang setengah gila di luar sana (termasuk aku) menemukan seseorang yang mengerti akan kegilaannya.