WIDOWS: Salah Satu Film Bagus 2018

00.33 Titi Setiyoningsih 0 Comments



Sumber gambar: Wikipedia
     Aku bukan pegawai XXI, bukan pula agen pemasaran dari Hollywood, apalagi produsernya. Aku cuma penonton jelata dari film dengan judul “Widows”. Sebagai penonton biasa aku sangat, saNGAT, SANGAT merekomendasikan film WIDOWS. Film ini baru rilis di Indonesia kemarin, tanggal 07 Desember 2018. Aku yang sudah kepincut sama trailernya, malam tadi langsung ngajak suami nonton. Beruntungnya kami, ternyata ada promo setiap hari Jumat untuk pemilik kartu debit BNI yakni buy one get one. Btw, aku juga bukan team marketingnya BNI. Aku cuma pengin berbagi pengalaman. Promo ini bisa kalian klik di cinemaXXI.com (Promo berlaku hingga April 2019). 
  
Film Widows merupakan adaptasi dari buku, disutradarai oleh McQueen yang pernah menyabet Oscar untuk filmnya yang berjudul 12 Years a Slave (2013). Penulis naskah Widows adalah McQueen dan Gillian Flyn. Kalau kalian pernah baca atau nonton Gone Girl pasti udah enggak ragu lagi sama kemampuan Flyn dalam meramu cerita drama misteri yang plot-nya tak tertebak sampai akhir cerita. Begitu pun film Widows ini. Kolaborasi McQueen dan Flyn berhasil membuat setiap percakapan dan adegan dalam film tak ada yang bisa dilewatkan. Ibaratnya kalau mendaki gunung, ini film track-nya nanjak terus, nggak ada bonus. Sekali meleng, kamu bakal kehilangan bagian penting dalam film. Apalagi di tengah-tengah cerita akan ada kejutan super duper tak terduga. Kece banget pokoknya nih film.
     Menurutku efek kejutan dalam film juga salah satu pertimbangan cerdas McQueen dalam memilih pemeran. Jadi ada salah satu tokoh yang selama ini identik dengan peran yang kebapakan, tanggung jawab, cinta keluarga, dan baik hati lalu tiba-tiba kita sadar McQueen tengah menipu kita. Tokoh yang baik hati tadi itu ternyata adalah dalang dari segala penderitaan para Janda yang berakibat juga pada serangkaian pembunuhan sebelum pemilu. Penggabungan antara konfilk keluarga, politik, ekonomi, ras, dan mafia selalu menjadi kombinasi yang sempurna.
    Kualitas akting para pemain juga tidak diragukan lagi. film ini bisa dibilang bertabur bintang di antaranya ada, Viola Davis, Michelle Rodriguez, Elizabeth Debicki (sepanjang nonton film aku selalu teringat tokoh Sansa Stark GOT kalau lihat Elizabeth), Cyntia Erivo, Collin Farrel, Liam Neeson, dan sederet tokoh yang rasa-rasanya adalah penduduk negeri “Wakanda Forever”. Bagiku yang cuma penonton jelata, akting mereka udah tanpa cela.
     Terakhir, bagi para penggembar film berjenis drama, kejahatan, thriller, dan penuh ketegangan wajib hukumnya nonton film ini mumpung baru tayang di bioskop. Jangan sampai menyesal karena untuk film sebagus ini kurang puas rasanya kalau sekadar nonton di laptop atau tv. Kalau yang merasa isi dompet pas—pasan buat nunggu 12.12 termakan promonya terereeeteetreeeetttt blackpink! Tenang, inget promo hari Jumat tadi itu lho, buy one get one.
Ini dia trailernya.
https://www.youtube.com/watch?v=nN2yBBSRC78

Sekadar info, novel-ku di Wattpad dengan judul Pangeran Senja, udah tamat lho… Klik aja:
https://www.wattpad.com/645344452-pengeran-senja-tamat-prolog


0 komentar:

KRITERIARRRS

10.09 Titi Setiyoningsih 2 Comments


Beberapa hari yang lalu seorang teman berkata, “Laki-laki itu lebih milih perempuan yang pinter. Buat apa cantik tapi otaknya kosong?” Mendadak aku teringat, sekitar tiga atau empat tahun yang lalu temanku yang lain justru berujar, “Laki-laki itu takut sama cewek pinter, mereka lebih seneng yang cantik meskipun nggak pinter-pinter amat/malah sedikit lamban.” Dua opini yang kontradiktif kan? Kemudian menanggapi teman yang pertama tadi, saya menjawab, “Menurutku laki-laki bakal cenderung ke cewek yang mau belajar.” Saya kira, di antara tiga pendapat tadi tidak ada yang salah atau benar. Semuanya mungkin benar dan bisa jadi semuanya justru salah. Berbagai hal di dunia ini bukan sesuatu yang serta merta seperti hitam dan putih, benar atau salah. Ada beberapa hal yang akan selalu berwarna abu-abu, begitu pun perkara selera seorang laki-laki.

Katakanlah, setiap orang memiliki tipe/pandangan/penilaian yang berbeda terhadap lawan jenisnya. Ada laki-laki yang suka cewek smart banget nggak peduli tampilan fisiknya. Ada juga yang lebih mengutamakan tampilan fisiknya masalah otak belakangan. Namun ada pula yang mau dua-duanya, ya pinter, ya cantik (ya sholehah, ya kaya raya, ya anak menteri, terus ajaaaaaa). Lalu kebanyakan laki-laki lebih suka yang kombinasinya “pas”. Kata “pas” di sini juga relatif ya misalnya, “Okelah soal fisik dia sedang, soal kecerdasan juga sedang, yang penting pinter masak”. Kombinasi ini menyangkut jutaan elemen yang lebih rumit ketimbang yang sudah saya paparkan tadi. Gampangnya, ada yang suka kopi pahit, ada yang suka gulanya banyak, ada yang suka kopi pakai creamer, eh malah ada yang lebih suka air putih (mengingat betapa menyehatkannya air putih). Intinya sih semua relatif!

Malah beberapa contoh nyata ku amati beberapa laki-laki sebenarnya lebih suka sama yang montok, terus dapatnya malah kurus, atau kebalikannya. Terus pertanyaannya “Katanya mereka suka yang montok, ko malah pilih yang kurus sih?”  Nggak sesimpel itu gengs! Bisa jadi Si Perempuan nggak sesuai kriteria Si Laki-laki tapi punya kelebihan lain yang membuat Si Laki-laki akhirnya mantap. Ada juga “Eh katanya dia suka yang pakai jilbab, kok malah nikah sama yang nggak pakai jilbab?” Hell Oooww, bisa jadi ibadahnya/ karakternya/ sifatnya/ dan tetekbengek lainnya justru melebihi yang berjilbab. Hemmmmmmmmm.

Tapi kenapa di awal tadi saya berpendapat mereka kaum adam MUNGKIN cenderung ke yang “mau belajar”? Simpel aja sih, ada beberapa ku lihat seorang bapak pendidikan sampai S-1 tapi istrinya hanya tamatan SMA, ada juga yang suaminya lulusan S-1 malah punya istri lulusan S-3, ada juga yang cerdas dan berpangkat tapi punya istri “ndeso” bahkan tidak bisa membaca. Well, bagi kalian yang kutu buku dan jarang melihat contoh nyata, bacalah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Tokoh Nyi Ontosoroh,  perempuan “ndeso”, pemalu, penakut, dekil, kotor, kurang beradab (bagi kaum barat) dinikahi/dipinang/diambil oleh seorang Belanda pejabat pabrik gula. Nyi Ontosoroh diajari membaca oleh suaminya, diajari cara berpakaian yang cantik/rapi, diajari pakai sandal, diajari beberapa adab barat, hingga akhirnya ia menjadi sosok perempuan yang cerdas nan anggun.

Saya amati, keawetan hubungan beberapa pasangan tadi dikarenakan masing-masing mau belajar. Jenis belajar bukan hanya belajar untuk kecerdasan kognitif ya. Belajar di sini cakupannya luas, yakni mencakup kecerdasan emosional juga spiritual. Katakanlah perbedaan derajat pengetahuan antara si laki-laki dan perempuan ternyata bukan jadi masalah, atau perkara fisik juga bukan jadi masalah, asal masing-masing sanggup mau belajar. Belajar berkompromi, belajar mengimbangi, belajar untuk tampil cantik, belajar untuk lebih sholehah, belajar untuk menghargai usaha pasangan, belajar untuk sabar, belajar hal-hal yang diketahui oleh sang suami, dan lain sebagainya.

Beberapa kali saya juga mendapat opini dari teman-teman yang sudah menikah intinya, “Cari pasangan yang nyambung diajak ngobrol, kalau kalian tua nggak ada yang bisa dilakuin lagi selain ngobrol.” Hemmmmm, masuk akal sih. Saya amati Ibuk Kos di Solo dan Bapak Kos yang masing-masing usianya sudah kepala tujuh saban hari nyambung karena obrolan. Tapi yang mereka obrolkan bukan teori atau filosofi, bukan juga gugusan rumus matematika atau perkembangan ilmu dunia barat. Mereka ngobrol soal remeh temeh seperti, “Eh Ibuk sebelah mau mantu…” “Si Cucu katanya sering rewel ya…” “Sirahku kok kleyengan ya…” “Ayam tetangga mati misterius…” “Anak kos laki-laki itu lho kalau bayaran angel tenan ditarik.” See? Mereka sudah tidak cantik/ganteng/charming lagi, mereka juga tidak berdiskusi soal ilmu pengetahuan yang rumit. Mereka hanya berkomunukasi secara sederhana. Ya tapi mungkin kalau yang sama-sama profesor, bisa jadi pas tua mbahas research and development, atau yang makin tua makin cantik karena plastik. Kembali lagi semuanya relatif. Lalu jauuuhhh di pemikiranku, justru ada yang tidak bisa ngobrol pas tua karena masing-masing udah kena penyakit kuping tua (mulai tuli) tapi mereka awet dan rukun aja tuh. Nah loh! Intinya ada kemauan untuk belajar, utamanya belajar bersabar dan bersyukur.

Tentang menilai seorang perempuan, ada sebuah hadist yang bunyinya ““Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)".
Ayo sama-sama belajar untuk menjadi yang lebih baik versi kalian! Saya pun masih jauuuuuuuhhhh dari kata “baik”. Kesimpulannya, jangan pernah merasa berkecil hati tapi juga jangan malah sombong/congkak. Apalah kita ini dari milyaran perempuan lainnya ciptaan Allah SWT yang pastinya banyak dari mereka lebih baik dalam segala bidang. Terakhir, percayalah Tuhan bakal ngasih yang terbaik versi-Nya untuk kita.
Psst, kalau lagi butuh refresh otak, buka aja wattpad saya:

2 komentar:

08.42 Titi Setiyoningsih 0 Comments

https://www.wattpad.com/645372573-pengeran-senja-3/page/4

0 komentar:

CATATAN PINGGIR 2

06.14 Titi Setiyoningsih 0 Comments




Di suatu sore yang sangat santai, terlalu santai dan malas untuk melakukan apa pun, seseorang berujar padaku, “Rumah bukan hanya sekadar bangunan tempatku pulang. Rumah bagiku juga tempat mencurahkan segala keluh kesah, kepenatan duniawi, dan mampu memberikan kenyamanan. Tempatku kembali merasakan ketenangan.”

Dari percakapan itu dia mendefinisikan kata “rumah” bukan hanya sebagai kata benda, tapi juga kata sifat. Hal ini membuat kosakata dalam bahasa Indonesia terasa kurang. Jika dalam bahasa Inggris kita bisa menemukan house dan home yang keduanya jika diartikan dalam bahasa Indonesia sama-sama berarti rumah, tapi memiliki fungsi pemakaian yang berbeda. House merujuk ke rumah sebagai sebuah bangunan, sedangkan home merujuk ke kata sifat.

Topik tentang “rumah” membawaku kembali pada kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Daerah. Saat itu aku mewakili kampusku mengikuti lomba cabang menulis cerpen tingkat Jateng. Ketika memasuki waktu lomba, juri meminta peserta menulis cerita dengan tema “rumah”. Aku kira di sini juri juga ingin melihat seberapa luas imajinasi peserta mengartikan kata “rumah”, entah rumah sebagai house, home, atau yang lainnya yang tak terduga.

Lalu aku juga teringat dengan film berjudul Brooklyn. Film tersebut merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Tom Toibin. Berkisah tentang seorang gadis Irlandia yang harus memilih antara Amerika, tempatnya bekerja atau kampung halamannya, yakni Irlandia. Ia harus menentukan tempat yang akan menjadi home baginya. Tidak hanya soal memilih rumah berupa tempat tinggal, pilihannya itu juga menentukan antara dua laki-laki yang siap menjadi rumah baginya. Rumah yang bukan sekadar house tapi juga merupakan sebuah home.

Dari itu semua, aku jadi banyak berharap ada kosakata baru dalam bahasa Indonesia untuk penyebutan “rumah” menjadi lebih spesifik yang membedakan antara sebuah benda dan sifat. Alangkah kata tersebut pasti akan menjadi salah satu jenis kata romantis yang diucapkan seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya.

nb: yang penasaran sama film Brooklyn, ini dia link trailer-nya.
https://www.youtube.com/watch?v=15syDwC000k

0 komentar:

CATATAN PINGGIR 1

08.55 Titi Setiyoningsih 0 Comments


Surabaya, 30 Mei 2018

Aku kelelahan. 
Sepulang kerja, seusai salat ashar, aku milih tidur dan bangun-bangun udah jam 17.00. Pikirku, ya udah hari ini buka puasa di kos aja sama eyang kos atau ke mushola dekat kos. Rencana keliling hari ini juga nggak mungkin terlaksana karena motorku lagi rewel dan nginep di kos teman (baca: Mba Kinanti). Seusai magrib, sekembalinya dari mushola, makan nasi kotak dan roti di ruang tv. Waktu itu hanya aku, Mba Daisy, dan Eyang Upik. Sekitar habis isa, Eyang Toto keluar kamar, niatnya mau mandi, tapi parkir dulu di depan tv. Kedatangan Eyang Toto membawa obrolan yang super panjang. Aku lupa awalnya, pembicaraan kami melebar ke segala penjuru. Ini mengingatkanku pada Eyang Yoto (bapak kos di Solo), ternyata karakter mereka hampir sama. AKu jadi merasa nyaman ketika ngobrol tentang berbagai topik. Seingatku pembicaraan kami dimulai dari basa-basi ringan tentang menu berbuka, kegiatanku akhir-akhir ini, juga tentang tempat wisata. Lalu topik obrolan mengarah ke kisah konflik Madura-Kalimantan. Apalagi Eyang Toto pernah di Kalimantan Tengah selama 4 tahun, jadi beliau bisa cerita beberapa hal penyebab konflik dan penyelesaiannya. Dari kisah itu berlanjut ke cerita ilmu gaib, keris, sampai sejarah kerajaan Singosari. Dari Singosari kami meluncur ke sejarah keraton Solo-Jogja, sampai huru-hara Tionghoa. Banyak hal yang kami bicarakan, tidak terarah memang, tapi aku jadi punya sudut pandang baru mengenai suatu hal. Obrolan kami ditutup dengan isu politik dan sejarah perkembangan politik singkat.

Oke, sebenarnya bukan obrolan sih, lebih tepatnya aku yang nyimak cerita Eyang Toto. Ada jeda ketika es blewah kami berdua habis, Eyang Toto harus mandi, dan aku melanjutkan chit-chat sama Mbak Daisy dan Eyang Upik. Tak berapa lama Eyang Toto muncul lagi dengan penampilan lebih fresh setelah mandi. Kami melanjutkan pembicaraan tentang bisnis, kiat berwirausaha, dan Eyang Toto memberi beberapa tips menarik kepadaku. Sekitar pukul 22.00, aku pamit terbang ke lantai 2 menuju kamarku. Sebelum aku take off Eyang Toto bertanya, “Punya buku harian?

Ku jawab, “Punya, Yang, tapi sekarang udah jarang nulis.”

“Tulis tentang ini ya, kan jarang ngobrol banyak hal tadi. Terutama tentang rencana dan ide-idemu itu. Jangan dimatikan, kamu pacu terus.”

Aku meringis, “Iya, Yang, nanti saya mulai nulis lagi deh. Dulu tiap hari nulis, sampai di rumah ada berjilid-jilid buku harian dari SMA.”

“Iya, bagus itu. Biar kamu nggak lupa sama pemikiran-pemikiranmu.”

“Gitu ya, iya sih, Yang. Ya udah habis ini saya mulai rajin nulis buku harian lagi. Kebetulan saya punya buku harian dikasih sama temen.”

“Bagus itu.”

TENG! Oke, sudah saatnya aku mulai nulis buku harian lagi. Setelah sekian lama. Kenapa aku sempat berhenti? Karena ketika aku kembali membaca buku harianku yang dulu, aku merasa malu dan geli mengingat betapa alay, betapa aku pernah sangat muda, berkobar, dan sangat egois. Hal itu membuatku malu. Kadang ada kalanya kita tak ingin lagi mengingat suatu kisah yang terjadi dalam hidup kita, lalu ketika kamu membaca buku harianmu, kamu akan mengingatnya dengan perasaan campur aduk. Hanya saja setelah malam ini aku harus kembali menjadi manusia penulis buku harian. Makasih Eyang Toto.
Welcome back:  "Dear Diary".

0 komentar: