Pilihan Transportasi dari Banjarnegara ke Surakarta




Salah satu pertanyaan orang yang hendak merantau biasanya adalah “Kalau mau ke sana enaknya naik apa ya?” Maksud kata “enak” tersebut adalah kaitannya dengan tingkat kenyaman, waktu, dan biaya. Setiap orang tentu memiliki pertimbangan masing-masing. Nah, kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang berbagai transportasi yang bisa digunakan dari Kabupaten Banjarnegara ke Kota Surakarta (Solo) atau pun sebaliknya.
Pada tahun 2011, teman-teman saya kebanyakan melanjutkan kuliah di Jogja atau Semarang mengikuti jejak para kakak kelas. Oleh sebab itu sangat sedikit atau bahkan waktu itu tidak ada kakak kelas yang dapat dimintai informasi tentang kehidupan di Solo. Ditambah saya tidak punya sanak saudara di sana dan baru pernah sekali ke kota itu saat masih siswa SD. Jadi saya kira informasi berikut ini dapat membantu para perantau dari Banjarnegara yang hendak ke Solo. Ada 6 opsi transportasi yang pernah saya coba dari Banjarnegara menuju Solo.
1.      Jasa travel
Naik mobil jasa travel merupakan pilihan paling aman dan nyaman untuk pemula. Mobil travel tentu mau mengantar penumpangnya tepat di tempat tujuan. Hanya saja travel dari Banjarnegara ke Solo saat itu (tahun 2011/2012) hanya ada 1 pemberangkatan, yakni jam 07.00, itu pun harus mengantar dulu penumpang tujuan Jogja. Nanti dari Jogja ke Solo hanya ada 2-3 penumpang saja. Perjalanan menggunakan travel sekitar 8 jam karena sampai Solo biasanya sudah jam 15.00. Saya menggunakan jasa travel hanya ketika masih mahasiswa baru. Durasi yang terlalu lama membuat saya tidak lagi memilih travel. Saat itu biaya jasa travel sekitar Rp 70.000-90.000.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJXZYk0v3OImqk2YNCKyBQDk_uEcX4dwVR6489PxAqIc7tpaJ-Z6tgoYlspIDt2DobZPw3U-20hbAruY8Qbx-GGOBVYkIId1rTg-VkZ6ka-pIU3lFQ11XKKzGM_qE1irseWzq3ZiLt6ZZy/s1600/alamattravel+alamat+travel.jpg

2.      Bus PO Handoyo jurusan Purwokerto-Malang
Bus Handoyo jurusan Purwokerto-Malang ada yang lewat terminal Banjarnegara. Ada dua jam keberangkatan bus ini, yakni pukul 15.00 dan 15.30. Nantinya sampai di Terminal Tirtonardi Solo sekitar pukul 22.00, jadi waktu perjalanannya kurang lebih 7 jam. Busnya ber-AC dan nyaman, jenis bus eksekutif. Tarif dari Banjarnegara-Solo adalah Rp 70.000 (2013-2017). Bus Handoyo ini nanti rutenya juga lewat Jogja, dan akan berhenti sejenak di agen Wonosobo, agen Temanggung, dan juga Terminal Secang untuk ISOMA waktu magrib. Nah, dari terminal Tirtonardi ke daerah kampus bisa dengan ojek, taksi, transportasi online atau minta dijemput kawan.
Image result for po handoyo banjarnegara-solo
Add caption

3.      Bus jurusan Purwokerto-Solo
Bus kelas ekonomi ini hanya ada satu keberangkatan, yakni jam 07.30 dari Terminal Banjarnegara. Waktu tempuhnya yakni 7 jam, sedangkan tarifnya Rp 50.000 (tahun 2014).
 4.      Bis jurusan Purwokerto-Semarang, dilanjutkan jurusan Semarang-Solo
Bus kelas ekonomi ini ada setiap jam, bahkan ada yang bilang beroperasi 24 jam. Jika hendak ke Solo, maka bilang ke kondektur hendak turun di terminal Bawen. Nanti dari terminal Bawen pindah Bus jurusan Semarang Solo. Tarif dari Banjarnegara-Bawen yakni Rp 35.000 sedangkan Bawen-Solo Rp 15.000 (2013-2016). Durasi waktunya juga sekitar 7 jam.
Image result for bus jurusan purwokerto-solo
Purwokerto-Bawen
Image result for bus jurusan bawen-solo
Bawen-Solo

5.      Kereta Api dari stasiun Purwokerto
Di Banjarnegara tidak ada stasiun kereta. Jika ingin naik kereta harus ke Kota Purwokerto dulu. Butuh waktu 2 jam untuk ke Purwokerto dengan transportasi umum bus jurusan Wonosobo-Purwokerto dengan tarif Rp 20.000. Dari Terminal Purwokerto bisa naik Gojek (tahun 2017 Purwokerto sudah ada Gojek lho) ke Stasiun Purwokerto. Buka aja alamat web https://tiket.kereta-api.co.id lalu pilihlah kereta api sesuai keinginan saudara menuju Solo Balapan atau Puwosari.
Image result for kereta api purwokerto-solo
Add caption
6.      Kendaraan Pribadi
Wah, kalau dengan kendaraan pribadi kita bisa memuaskan diri menikmati pemandangan alam selama perjalanan Banjarnegara-Solo. Di daerah Temanggung, kita akan melewati jalan berkelok-kelok di antara Gunung Sindoro-Sumbing. Pemandangan alamnya sangat indah, perkebunan teh dan sayur terbentang di kanan-kiri jalan. Kalau cuacanya cerah, Sindoro-Sumbing akan tampak menawan di samping kanan dan kiri. Tidak hanya itu, setelah Temanggung bila lewat jalur Kopeng, kita juga akan disuguhi lereng Gunung Merbabu beserta siluet Gunung Merapi di sampingnya. Dijamin perjalanan tidak akan membosankan. Waktu tempuh dengan kendaraan pribadi hanya sekitar 4-5 jam. Kalau perjalanannya malam hari, pemandangan yang indah tadi justru akan terlihat menyeramkan lho ya.

CATATAN TAMBAHAN:
Sekarang sudah ada bus Eka dan Sugeng Rahayu jurusan Purbalingga-Surabaya lewat Banjarnegara. Setiap hari ada total 6 keberangkatan dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00
Harganya Rp. 70.000 total perjalanan 5-7 jam tergantung kecepatan bus dan tingkat kemacetan.

Image result for jalan temanggung antara sindoro sumbing
Merbabu-Sindoro (Temanggung)



Image result for pemandangan jalan kopeng
Jalan lereng Merbabu (Kopeng)
nb: sumber foto berasal situs google.com

Bermalam di Nusa Penida




Ini kali kedua saya ke Bali, tapi menyeberang ke Nusa Penida merupakan pengalaman yang pertama kali. Sebuah perjalanan gila yang tak terencana dengan baik. Sebelumnya saya pernah ke Bali pada acara study tour SMA tahun 2009. Bali yang saya lihat saat SMA dengan Bali pada kunjungan kedua saya sangatlah berbeda. Saya kira semua orang juga mengalami hal semacam ini: cara pandang kita pada suatu hal akan berbeda seiring bergantinya waktu, semakin bertambahnya usia dan pengalaman semakin banyak pula kacamata –sudut pandang– yang kita dapat. Saat masih siswa SMA, saya memandang Bali sebagai suatu euforia, sebuah pesta, penuh dengan letupan dan perasaan yang meledak-ledak. Sedangkan Bali di awal bulan April 2017 justru terasa begitu mendamaikan.
Hari kedua di Bali (2 April 2017), jam 08.30 WITA saya dan keenam teman saya sudah di kawasan Pelabuhan Padang Bai. Sebelumnya kami berangkat dari Kuta sekitar jam 07.30 WITA. Sebelum masuk ke pelabuhan akan ada pemeriksaan surat-surat seperti STNK, SIM, dan KTP setiap pengunjung, jadi selalu pastikan  semua ada di dalam dompet. Hanya ada dua jadwal penyeberangan menuju Nusa Penida dari Padang Bai yakni jam 09.00 dan 13.00 tapi beberapa orang bilang hanya ada satu pemberangkatan. Waktu itu saya dan keenam teman saya berlari sepanjang pelabuhan demi mengejar kapal feri yang hendak berangkat. Untuk menyeberang ke Nusa Penida per orang dikenakan biaya Rp 31.000. Mobil kami titipkan di pelabuhan karena kalau mobil ikut menyeberang harus menambah Rp 280.000. Nah, berarti akan lebih hemat kalau menyewa mobil di Nusa Penida.
Pulau Bali semakin jauh di mata dan lautan tampak biru cerah berkilauan ditimpa cahaya. Feri penuh dengan turis dan beberapa penduduk lokal. Butuh waktu sekitar 90 menit untuk sampai di pelabuhan Nusa Penida. Nah, saat di Padang Bai tadi kami sudah memesan mobil sewaan lewat jasa seorang pemandu. Waktu kami sampai di Nusa Penida, seorang laki-laki berperut tambun langsung menghampiri kami. Lalu katanya dengan logat Bali, “Rombongannya Kaleb ini?”
Laki-laki itu memperkenalkan diri dengan nama Wayan, kami memanggilnya Pak Wayan. Sebelum menyepakati harga, kami tawar-menawar dulu. Baru setelah itu didapatlah harga “khusus mahasiswa”. Beruntung kami memilih tidak membawa mobil sendiri, akses ke beberapa tempat tujuan belum begitu bagus dan medannya terbilang susah untuk mobil. Pak Wayan beberapa kali seolah sedang bermanuver di jalan berbatu. Sekilas tentang Pak Wayan, beliau orangnya blak-blakan, baik, berpengetahuan luas, dan lucu. Tentu saja sikap seperti itu diperlukan oleh para pemandu wisata supaya bisnisnya lancar.
Broken Beach
 
Angel's Billabong
Uni dari Padang rancak
 Hari itu kami ke Crystal Bay Beach,  Broken Beach, dan Angel’s Billabong. Kami sempat heran dengan nama-nama pantai yang terdengar kebarat-baratan itu. Pak Wayang bilang itu karena yang mempopulerkan tempat-tempat tadi adalah para turis mancanegara. Pak Wayan juga berbaik hati mengantarkan kami ke tempat makan siang yang super murah meriah di Nusa Penida. Kami membeli nasi bungkus di sebuah warung kecil milik penduduk. Sambil menunggu makanan, aku melihat-lihat daerah sekitar. Suasananya benar-benar khas pedesaan Bali yang tenang. Dupa yang dibakar di dekat pura, pohon raksasa yang diikat kain kotak-kotak hitam putih, lalu di bawahnya ada sebuah gubuk panggung tak berdinding tempat para laki-laki sedang berkumpul. Mereka hanya mengenakan celana, tanpa kaos, asik berkerumun di atas panggung gubuk. Mungkin mereka sedang bermain judi. Pemandangan seperti itu pernah ku jumpai di dalam novel atau cerpen karangan sastrawan Bali, tapi saat di Nusa Penida aku melihatnya sendiri dan sempat terpesona. Bahkan saat menulisnya aku merasakan kembali kedamaian dan perasaan berkabut. Entah perasaan apa, aku menikmati benar suasana pedesaan yang seolah tak terjangkau oleh kemajuan IPTEK itu.

 
kakak adik Batak Boangmanalu di Crystal Bay Beach
Sepanjang perjalanan hanya ada hutan, padang rumput, dan lahan perkebunan. Sesekali kami melihat kumpulan rumah warga, gedung sekolah dasar, dan pura. Hujan turun deras waktu kami hendak ke Pantai Kelingking. Matahari juga cepat sekali menghilang. Gelap, sepi, dan menakutkan. Kami memutuskan untuk kembali ke sekitar pelabuhan, namun tak diduga Pak Wayan menawari kami penginapan di rumahnya dengan harga sangat-sangat-sangat miring. Tentu saja kami langsung mengiyakan. Malam itu kami makan bersama di teras rumah Pak Wayan. Kami makan dengan menu sayur kacang, ikan bandeng, dan masakan ikan laut dari istri Pak Wayan. Saya justru merasa ini lebih mirip KKN ketimbang sedang berwisata. Sebelum terlelap saya semakin merasa seolah sedang tidur di rumah saudara jauh.
Sarapan di teras rumah Pak Wayan
 Esok paginya suasana khas Bali lebih kentara. Bau dupa menyengat dari setiap rumah warga. Ibu-ibu mulai sibuk ke sana ke mari, anak-anak bersiap pergi ke sekolah, anjing-anjing mulai berkeliaran, tanah masih basah dan bunga-bunga kamboja jatuh berguguran karena hujan semalam. Indah sekali arsitek rumah-rumah orang Bali dengan ukiran di sana-sini, lalu ada gapura di setiap rumah penduduknya. Pagi itu kami makan nasi bungkus campur ikan asin lagi. Kami tak bisa lama-lama karena Pak Wayan ada kegiatan lain hari itu. Setelah kami membujuknya semalam, Pak Wayan mau mengantar kami ke Pantai Atuh yang satu kawasan dengan Pantai Kelingking.
Menatap Pantai Kelingking
Pantai Atuh
   Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Panas menyengat, haus, dan capek. Seharusnya kami membawa air minum saat melintasi jalanan yang naik turun itu. Namun segalanya terbayarkan oleh pemandangan berupa pantai jernih, karang di tengah laut, pasir putih, dan tebing-tebing. Belum puas rasanya, tapi kami harus mengejar jam keberangkatan kapal feri untuk kembali ke Bali. Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan Nusa Penida, saya tersenyum melihat indahnya pemandangan sekitar, pulau Bali tampak hijau kebiruan di tengah lautan. Terdengar burung-burung berkicau berpadu riuh suara para laki-laki yang sedang panik karena sinyal membuat mereka tak bisa menghubungi pacar masing-masing.
Jam 14.00 kapal kami baru bertolak dari Nusa Penida. Harga tiket per orang Rp 31.000, jadi biaya naik kapal pp Bali-Nusa Penida per orang yakni Rp 62.000. Kami melepas lelah di bangku kapal sembari menikmati semilir angin dan lautan luas yang mengharu biru. Ada dua penduduk lokal hendak menangkap ikan dengan senar superpanjang. Beberapa penumpang bersorak saat ikan tampak telah memakan dan termakan umpan. Gerimis kembali turun ketika kami tiba di Bali. Malam itu kami makan di restoran yang terletak di sepanjang Pantai Jimbaran. Kami lelah, tapi kami lebih merasa bersemangat karena besoknya masih akan berkeliling di Bali.
Makan malam di Jimbaran, betapa gosongnya kami

Buat Esdaniar



Peringatan: Hanya karena saya belum menulis kisah tentang sahabat-sahabatku yang lain bukan berarti mereka tidak istimewa. Hanya saja waktu menerima surat kejutan dari salah satu sahabatku ini, mendadak ingin menulis sedikit tentangnya sebagai ucapan terima kasih.

Banjarnegara, 6 Juni 2017
Aku lagi leyeh-leyeh baca buku sambil nunggu adzan Dzuhur. Mamak masuk rumah sambil manggil, “Ini ada paket. Apa sih?”
“Oh, transkrip nilai dari Solo.”
“Surat kok berat banget gini,” komentar Mamak.
Aku juga heran, harusnya tidak seberat ini. Aku buka, memang isinya transkrip nilai dan legalisasinya, tapi ada hal lain. Aku rogoh isi amplop, rupanya dua coklat Silver Queen dan sepucuk surat. Jujur aku terharu, sejauh ingatanku ini kali pertama aku dapat paketan yang isinya bukan sekadar dokumen resmi. Mamak sempat curiga, itu kok ada cokelat sama surat warna-warni? Aku ketawa, ini dari temen cewek satu kos.
Namanya Esdaniar Khoirunisa. Kami bertemu di suatu sore bulan Agustus 2011, pada waktu Ramadhan. Ada beberapa orang yang memiliki kesan tak nyaman ketika pertama kali berjumpa denganku. Begitu pun dia. Tapi sejauh pengalamanku, beberapa orang yang awalnya tak menyukaiku justru merupakan calon salah satu sahabat baikku. Begitu pun dia. Sore itu aku tanpa segan masuk ke kamarnya, kebetulan dia satu-satunya penghuni kos baru yang menampakkan diri. Kami berkenalan. Di kemudian hari aku membaca surat dari Esdaniar yang isinya begini:
“Waktu itu bulan puasa. Kos masih sendu karena aku pertama kalinya jauh dari orang tua. Aku ingat Titi buka kamarku tiba-tiba, dan lihat koper besarku ngeblak berserakan dan dia bilang ‘Kamu baru pindahan?’ lalu aku bilang dalam hati ‘Kurang ajar nih orang! Buka-buka pintu kamarku tiba-tiba’”
Aku ketawa bacanya sekaligus haru.
Untukmu Esdaniar, momen terindah selama di kos Nefilla adalah ketika kita lembur tugas berdua di kamarku. Setelah itu kita sepakat tidur sebentar supaya bias bangun. Itulah salah satu momen yang akan membekas selamanya, Da. Masih ingat kan? Lalu waktu mulai menempa masing-masing dengan cara yang berbeda. Esdaniar selama S-1 sibuk dengan organisasinya, sedangkan aku sibuk melalang buana sampai kadang lupa jalan pulang kosan.
Kami sempat berpisah saat semester 5 hingga akhirnya kami sama-sama lanjut studi, waktu itu aku memutuskan untuk pindah kos. Kami berkomunikasi ala kadarnya. Tak disangka muncul kembali kesempatan untuk satu kos lagi, yakni di kos Bu Yoto. Rumah ini memberikan banyak cara kepada para penghuninya untuk merasa seperti keluarga. Esdaniar tetap menjadi kawan diskusi dalam hal buku, musik, kadang film, politik, semua nyambung deh. Kami berbeda dalam selera musik, dia suka lagu-lagu lawas, band-band asal London yang jarang didengar di telingaku. Sedangkan aku penggemar Coldplay, Taylor Swift, dan jenis musik lain yang kurang dia minati. Terlihat kan, begitu unik dan original Esdaniar. Tapi ada dua lagu yang sering kami nyanyikan bersama yakni, “Thinking of You” (Katty Pery) dan “They Long to Be Close to You” (The Carpenter). Kadang kami sahut-sahutan liriknya, terutama Thingking of You, dari S-1 sampai sekarang masih aja jadi Plylist kalau karaoke bareng.
Kalau habis nonton film, biasanya kita juga nyanyiin soundtracknya. Bahas filmnya sampai niat dia cari artikel tentang film itu dari para ahli. Kalau buku, wah, dia hobi membaca juga. Biasanya kami saling menambah informasi, pemahaman, dan membicarakan hal-hal di sekitarnya. Dan dia selalu punya sudut pandang yang unik, original, antimainstream pokoknya. Kalau kalian bertemu dan ngobrol dengan Esdaniar, pasti bakal tahu sendiri betapa sudut pandangnya sangat berbeda dari orang kebanyakan.
Dari Esdaniar aku belajar pola makan sehat juga cara merawat wajah dengan bahan alami seperti tomat, timun, lidah buaya, teh bekas, dan semacamnya. Obrolan kami juga ada kalanya membahas selulit dan cara-cara untuk menghilangkannya, lalu teknik olahraga dia yang tak kalah unik. Dia suka beli majalah dan koran bekas berbahasa inggris buat belajar. Tidak bakal habis deh kalau ngomong soal keaslian, kalau boleh ku bilang “originalitas” seorang Esdaniar.
Momen terakhir yang nggak mungkin aku lupa adalah kesediaanmu untuk jadi pendamping wisudaku. Keluargaku sudah tak seheboh waktu wisuda S-1. Bahkan mereka memutuskan langsung pulang setelah upacara wisuda, apalagi waktu itu Mamak sedang sakit. Akhirnya ku telepon kamu untuk menemaniku. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku tanpamu kala itu. Mungkin selesai wisuda aku langsung pulang ke kos. Terima kasih juga udah repot beliin obat sakit gigi padahal kamu lagi lemes karena puasa. Terima kasih tak terkira, Da. Sungguh beruntung laki-laki yang menjadi suamimu kelak. Ya begitulah, nggak bakal abis kalau sebutin kebaikan dia satu-satu.
Oke dari tadi kok muji terus, pasti ada luputnya dong. Jelas ada, salah satunya kalau mandi suka luuuuaaaammmaaa banget sampai kadang aku gedor buat tanya, “Masih lama nggak, Da? Aku ambil sabunku dulu gimana? Aku mau mandi di kamar mandi depan.” Hahahahaha, aku tahu dia bete, tapi bodo amaatt daripada telat, hahaha sorry Da.
Pada akhirnya, pertahankan sahabat yang selalu mengingatkanmu untuk tetap dekat kepada-Nya. Terima kasih, Da, selama ini secara tidak langsung jadi partner saling mengingatkan. Denganmu aku selalu merasa ingin terus berlomba dalam hal kebaikan. Doaku, semoga kamu dinikahkan dengan dia, dijaga pernikahanmu, dimudahkan memperoleh rezekimu, termasuk anak-anakmu. Katanya salah satu doa orang yang diijabah adalah doa orang yang berpuasa dari fajar hingga petang, aku berdoa untuk kebahagian dunia akhiratmu, Da. Dijaga terus salatmu, tahajudmu, tadarusmu, sedekahmu, dan puasamu. Allah yang akan membalas semua kebaikanmu padaku selama ini. Semoga silaturahmi kita tetap terjalin sampai kapan pun. Aamiin.
Ketika pertukaran pelajar ke Jepang, dia memberiku oleh-oleh berupa novel karya pengarang Jepang favoritku versi bahasa Inggris, lalu ada buku cerita anak-anak versi Inggris-Jepang, dan tentu saja beberapa daun maple. Sedangkan untuk beberapa buku dan surat pemberiannya yang lain  belum sempat saya foto.

p.s. : Sampai ketemu di Solo tanggal 8-9 Juli nanti. Insya Allah.
https://m.youtube.com/watch?v=z6CLOUtOSP8#

Meninggalkan Solo

Terlalu banyak kenangan di sana

Ed Sheeran - Perfect [Official Audio]

Salah satu soundtrack dansa dengan suamiku kelak! Hahahaha, but absolutely Coldplay is first.

Ed Sheeran - Photograph (Official Music Video)





Salah satu lagu yang selalu bikin bahagia dan merasa damai pas ndengerinnya. Begitu jeniusnya Ed Sheeran!