https://m.youtube.com/watch?v=z6CLOUtOSP8#

Meninggalkan Solo

Terlalu banyak kenangan di sana

Ed Sheeran - Perfect [Official Audio]

Salah satu soundtrack dansa dengan suamiku kelak! Hahahaha, but absolutely Coldplay is first.

Ed Sheeran - Photograph (Official Music Video)





Salah satu lagu yang selalu bikin bahagia dan merasa damai pas ndengerinnya. Begitu jeniusnya Ed Sheeran!


Scarlett O’Hara



Bulan kemarin ada tiga buku yang ku baca yakni, Agama Saya adalah Jurnalisme karya Andreas Harsono, Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma, dan Scarlett  karya Alexandra Ripley. Dari ketiganya, Scarlett adalah novel yang pengin banget ku bahas. Sangking ngebetnya baca, novel setebal 800 halaman lebih ini ku lahap hanya dalam waktu 5 hari. Jadi selama liburan ada sekitar 5-7 jam per hari mantengin buku yang mirip-mirip bantal ini. Oke, lebih tepatnya antara ngebet baca atau kurang kerjaan.
Sacrlett  merupakan sekuel Gone with The Wind karya Margareth Mitchell. Bagi yang sudah membaca atau menonton Gone with The Wind pasti ingat di akhir cerita Rhett memilih pergi meninggalkan Scarlett. Pada saat itu pula Scarlett sadar akan kenaifannya, gadis itu sebenarnya sangat mencintai suaminya sendiri, Rhett Butler. Nah, novel Scarlett yang berakhir bahagia bisa diibaratkan semacam obat sakit hati untuk para penikmat Gone with The Wind. Novel yang berjudul sama dengan nama tokoh utamanya, Scarlett, bercerita mengenai perjuangan Scarlett O’Hara mendapatkan kembali sang suami sekaligus tanah leluhur O’hara hingga ia menemukan jati dirinya.
Banyak hal yang berubah dalam diri Scarlett, terutama karakternya yang jauh berbeda antara Scarlett di Gone with The Wind dan Scarlett di Scarlett. Scarlett dalam Gone with The Wind adalah seorang gadis cantik pujaan para laki-laki, sosok manja, egois, pendengki, kekanakan, pelanggar norma, dan gila akan pesta. Scarlett termasuk jenis orang yang tahu cara membuat dirinya dicintai namun tidak tahu cara mencintai. Sedangkan sifat baiknya, dia tipe perempuan pekerja keras, bahkan kemampuannya dalam bekerja melebihi sebagian para laki-laki, terutama menyangkut bisnis. Satu lagi sifat Scarlett yang bagi saya menarik, dia sama sekali tidak peduli dengan semua omong kosong orang-orang di sekitarnya. Karakter Scarlett yang tanpa basa-basi seperti ini tentu saja membuat para wanita di sekelilingnya sering bergunjing tentang dirinya. Scarlett dianggap perempuan tidak tahu malu, tidak tahu sopan santun, pembangkang, penentang adat, penghianat, penggoda suami orang, dan label mengerikan lainnya. Amerika bagian selatan pada masa perang saudara memang belum ada aturan kesetaraan gender, perilaku Scarlett yang terlalu bebas, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, tentu saja menjadi bahan olok-olok para wanita. Tapi seperti yang sudah dijelaskan, Scarlett sama sekali tidak peduli hingga akhirnya ia dikucilkan oleh masyarakat sekitar.
Dalam novel Scarlett, sosok Scarlett mengalami perubahan karakter yang cukup kentara. Hal ini bermula saat ia mulai putus asa dengan Rhett dan memutuskan untuk berkunjung ke rumah kakeknya di Savannah. Di kota itu Scarlett mulai mengerti asal sifat lembut dan anggun mendiang ibunya. Kakek Robillard, ayah dari ibunya, merupakan laki-laki kaya raya, terhormat, yang menerapkan banyak aturan di rumahnya. Pantas saja mendiang ibunya begitu anggun dan bersikap seperti perempuan dewasa seutuhnya. Sejak dulu memang Scarlett merasa iri dan bertanya-tanya mengapa mendiang ibunya bisa begitu lembut, anggun, terhormat, dan penuh kasih bak malaikat sedangkan dirinya tidak? Lalu suatu hari Scarlett bertemu dengan keluarga garis keturunan ayahnya, para O’hara, di Savannah. Dari mereka Scarlett akhirnya menemukan sebab segala sikap dan sifat dirinya yang selama ini menjadi bahan gunjingan masyarakat. Ya, karakter Scarlett yang berapi-api dan loyal rupanya merupakan warisan dari keluarga O’Hara. Ini kali pertama Scarlett merasa diterima dan bahagia menjadi diri sendiri, bersama mereka Scarlett benar-benar menikmati hidup tanpa harus takut dihakimi. Ia menjadi pribadi yang telah mengenal akan jati dirinya.
Tanpa disadari saat di Savannah Scarlett berjalan menuju akar dirinya. Selain itu perubahan karakter Scarlett juga dipengaruhi oleh tanggung jawab yang harus diemban dan banyaknya masalah yang datang silih berganti. Saat di Irlandia Scarlett mendapat surat perceraian dari suaminya, dikabarkan pula Rhett telah menikahi seorang gadis baik-baik. Scarlett benar-benar hancur saat itu, apalagi tanpa sepengetahuan Rhett ia tengah mengandung anak mereka.
Setelah mendapat surat perceraian dari sang suami ia mengakui bahwa ini merupakan salahnya sendiri. Ini memang kali pertama Scarlett tidak menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dalam hidunya. Scarlett pun memutuskan untuk merawat anaknya seorang diri. Ia membeli tanah leluhurnya di Irlandia dan diangkat menjadi seorang pemimpin kaum O’Hara. Kewajiban menjadi pemimpin sekaligus seorang ibu membuat cara berpikir Scarlett lebih matang dan penuh kasih. Kelahiran anaknya mengajarkan Scarlett cara mencurahkan kasih sayang, ia akhirnya tahu caranya mencintai orang selain dirinya. Suatu perubahan yang signifikan mengingat Scarlett yang dulu sangat membenci anak kecil, bahkan kedua anaknya sendiri sering tak ia perhatikan.
Selain itu, kedudukannya sebagai seorang pemimpin membuatnya belajar untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri. Ia belajar berbagi, mengalah, berkompromi, dan hidup untuk orang lain. Seperti yang ia lakukan untuk kaumnya, saat terjadi bencana gagal panen, ia membagikan sembako untuk kaumnya supaya tak kelaparan. Hingga suatu ketika Scarlett tahu ini saatnya ia harus merelakan Rhett. Sikap semacam itu tentu sangat berbeda dengan Scarlett yang dulu, yang melakukan segala cara agar bisa mendapatkan Ashley meskipun laki-laki itu merupakan suami adik iparnya sendiri. Kini Scarlett tahu dirinya sangat mencintai Rhett dan ia belajar mencintai dengan cara melepaskan Rhett.
Perlu diingat, Scarlett tetaplah Scarlett, ia tetap seorang perempuan yang energik, pekerja keras, blak-blakan, tangkas, dan cerdas. Hal inilah yang membuat para laki-laki takluk padanya yang seorang janda beranak satu dengan usia kepala tiga. Bedanya, kalau dulu ia akan menyambut semua laki-laki yang mendekatinya, sekarang ia selektif dan lebih mementingkan anaknya.
Kehidupan Scarlett tak ubahnya seperti perjalanan seseorang menuju kedewasaan. Untuk menjadi bijak, Scarlett harus mau menempuh perjalanan. Perjalanan menuju dirinya sendiri dan perjalan ke luar dirinya. Dengan begitu Scarlett lebih mengenal jati dirinya sekaligus mengenal lingkungan di luar dirinya. Apabila kedua perjalanan itu seimbang, didapatlah banyak kacamata baru, berbagai sudut pandang baru, yang menjadikan Scarlett lebih bijak dalam beberapa hal. Pilihannya untuk menerima lamaran bangsawan Inggris bagi saya juga salah satu bukti bahwa Scarlett belum sepenuhnya bijaksana, rupanya masih jauh perjalanan hidup yang mesti ditempuh untuk menjadi lebih bijak.
Akhirnya, meskipun novel Scarlett merupakan lanjutan dari Gone with The Wind namun rasanya aneh ketika tahu kedua novel tersebut karya dari orang yang berbeda. Seperti yang sudah disebutkan di awal, novel Scarlett seperti obat sakit hati bagi mereka yang merasa kecewa dengan akhir Gone with The Wind. Jadi, kebahagiaan setelah membaca Scarlett  terasa kurang nyata karena kemunculan novel tersebut kesannya juga agak dipaksakan.

Pertemuan Dua Orang Gila



Aku bertaruh siapa pun yang nonton film garapannya Christoper Nolan bakal berakhir dengan kepala nyut-nyutan sangking mikir terus dari pembukaan sampe tamatnya film. Ya, aku jatuh cinta sama Nolan setelah nonton Inception pas zaman SMA, pikirku waktu itu, “Astaga ini film keren banget!” Dari ide cerita, karakter tokohnya, plot cerita, ending nggantungnya, pokoknya semuanyaaaa bikin klepek-klepek. Lalu aku makin kesengsem setelah nonton Trilogi The Dark Knight, Prestige, Interstellar, Memento. Untuk film-filmnya yang lain masih dalam proses untuk ditonton (better late than never). Bagaimana pun dari film yang udah ku tonton, semua menggambarkan betapa cerdas dan ajaibnya sutradara yang satu ini. Yah, walaupun harus aku akui belum ada yang ngalahin The God Father dalam hidupku.
Kenapa jadi bablas ngomongin Nolan?
Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu aku baru nonton Memento, Tinker Tailor Soldier Spy, Gone with The Wind, Bitvaza Sevastopol, beberapa film lawas yang jauh dari kisah komedi romantis. Terkadang setelah nonton film serius macam tadi, pikiranku haus akan film macam komedi romantis. Jadilah aku kumpulin film-film jenis drama romantis, salah satunya keluaran tahun 2012, Silver Linings Playbook.
Film Silver Linings Playbook  merupakan adapatasi dari novel dengan judul yang sama karya Matthew Quick, disutradarai David O. Russel yang merangkap penulis naskah. Cerita dimulai dari seorang laki-laki bernama Pat (Bradley Cooper) yang menderita bipolar dan dirawat di rumah sakit jiwa. Delapan bulan kemudian, Sang Ibu datang menjemputnya. Pat diperbolehkan pulang dengan beberapa syarat. Sebenarnya Pat dimasukkan ke rumah sakit jiwa setelah memukuli selingkuhan istrinya hingga hampir mati. Atas kejadian itu Pat kehilangan pekerjaan sekaligus istrinya.
Sekembalinya Pat ke rumah, suatu hari ia bertemu sahabat lamanya, Ronnie, yang langsung mengundangnya makan malam. Saat makan malam itulah Pat bertemu dengan adik ipar Ronnie, Tiffany (Jennifer Lawrence), janda yang juga menderita gangguan mental sejak suaminya meninggal. Dari sinilah kehidupan Pat mulai berubah, cerita menjadi semakin menarik dan lucu. Aku tertawa melihat kegilaan Pat, Tifanny, dan orang-orang di sekitar mereka.
Ada banyak adegan yang membuatku tertawa ketika menontonnya. Dimulai dari kemunculan Danny, teman Pat yang selalu mengaku telah dikeluarkan dari rumah sakit jiwa padahal belum. Kelucuan keluarga Pat, ayahnya penggemar tim football Eagle dan masih percaya tahayul ketika memasang taruhan. Aku juga tertawa saat adegan Pat selesai membaca novel karya Hemingway, dia marah-marah mendapati ending cerita novel itu ternyata menyedihkan. Dia protes kenapa Hemingway tidak menulis akhir yang bahagia setelah segala penderitaan para tokohnya? Aku sependapat denganmu, Pat! Sama seperti Pat, aku selalu percaya akan adanya garis-garis perak yang membelah langit kelabu.
Adegan menggelikan juga terjadi ketika pengumuman nilai kompetisi menari. Seluruh keluarga Pat dan Tifanny bersorak ketika skor rata-rata tarian Pat dan Tifanny adalah 5. Para peserta lomba heran karena 5 adalah skor paling jelek dari total nilai 10. Mereka tidak tahu, Ayah Pat baru saja memenangkan taruhan besar karena perolehan skor anaknya itu. Oh ya, dan gerakan dansa mereka… Emmmm…. Hahahahaha.
Melalui film ini kita sedikit bisa memahami apa saja yang dialami oleh orang-orang penderita bipolar. Dari Pat dan Tifanny aku melihat orang-orang gila seperti mereka justru hidup dengan lebih jujur. Mereka tak pernah berpura-pura. Tidak seperti Ronnie, orang waras kebanyakan yang hidup dalam kepura-puraan. Ronnie selalu merasa tertekan dengan hidupnya, pekerjaannya, istrinya, anaknya, cicilan rumahnya, blab bla bla. Sampai di suatu momen Pat dengan bijaksana menasihati Ronnie supaya lebih bersyukur. Selain itu ada lagi yang aku suka dari film ini, yakni ketika kencan pertama Pat dan Tifanny. Setelah membuka diri, Tifanny marah-marah dengan reaksi Pat yang spotan memberikan penilain buruk padanya. Dia bilang, “Aku sudah terbuka kepadamu dan kamu menghakimiku!”
Di sepanjang cerita film ini, kita bisa melihat tanda-tanda bahwa sebenarnya Pat jatuh hati pada Tifanny. Tapi semuanya baru terungkap jelas di akhir cerita ketika Tifanny membaca surat dari Pat. Begini surat Pat untuk Tifanny.
Dear Tifanny,
I know you wrote the letter. The only way you could meet my crazy was by doing something crazy yourself. Thank you. I love you. I knew it the minute I met you. I’m sorry it took so long for me to catch up, I just got stuck
Pat.
Begitu manis pengakuan Pat.
Terkadang memang hanya orang gila yang mampu mengerti kegilaan orang lain. Kegilaan yang bagi sebagian orang justru merupakan suatu kewarasan. Semoga untuk orang-orang setengah gila di luar sana (termasuk aku) menemukan seseorang yang mengerti akan kegilaannya.

Remidi Belanja Online



Sebenarnya niat awal pengin posting ulasan buku, tetapi berhubung bukunya belum ku baca sampai rampung,  ku tulis saja kisah remeh-temeh pengalaman kami belanja di toko online yang berakhir menggelikan. Semoga saja tulisan ini bisa membantu siapa pun yang akan belanja online supaya terhindar dari kibul-kibulan. Jangan sampai seperti kami yang uang hilang barang pun melayang. Di sini nama toko onlinenya kami samarkan, sebut saja Tokop*dia, itu lho yang iklannya pakai nyanyi-nyanyi segala pas nyebut nama tokonya. Buat yang suka mantengin iklan di tivi pasti ngertilah maskudku.
Tersebutlah empat orang perempuan bernama Titi, Arnisyah (Ais), Boangmanalu (Iko) , dan Esdaniar (Dani) baru saja pulang dari pendakian. Kalau diingat-ingat lagi pendakian kala itu adalah yang paling mengenaskan. Puncak badai, pasak tertinggal, tenda hampir kabur ke jurang, kehabisan spiritus, hingga berakhir dengan tidur di pos evakuasi. Sepanjang perjalanan pulang kami menertawakan kekonyolan itu. Poin dari kisah ini sebenarnya adalah ketika kompor spiritus super duper langka mendadak lenyap. Kami berempat ribut geledah tas, plastik, sampai tong sampah depan kos ku bongkar isinya (Bu Yoto saksinya), tapi tetap saja nggak nemu kompornya.
Ketika kami bermaksud membeli kompor baru, toko E*ger se-Solo Raya kehabisan stock, begitupun toko-toko online. Jadilah kompor itu begitu berharga di mata kami melebihi perpustakaan dan seluruh isinya. Kami hampir saja putus asa sebelum akhirnya kami buka situs Tokop*dia dan taraaaaaaa masih ada satu stok barang yang kami cari. Betapa leganya kami, apalagi ada promo potongan harga. Kami pesan kompornya dan langsung kami bayar sesuai harga. Ironisnya, kurang dari 24 jam dari pembayaran, kompor yang kami kira hilang jatuh begitu saja dari laci meja belajarku. Siapa sangka kompor yang begitu mungil itu tercampur dengan puluhan baterai headlamp di plastik. Aku hampir aja dikeroyok masa (Ais, Iko, Dani) karena kejadian ini.
Kita lewati saja drama penemuan kompor. Langkah penting yang harus segera dilakukan adalah membatalkan pembelian kalau masih bisa. Kami ‘klik’ Tokop*dia dan muncullah keterangan barang yang kami pesan stok kosong. Bahagianya membayangkan uang kami akan kembali. Esok harinya kami segera menanyakan prosedur pengembalian uang ke tempat pembayaran kami (Indom*ret) karena e-mail yang masuk dari Tokop*dia memiliki pengaturan tidak dapat berbalas pesan. Semacam komunikasi satu arah. Kemudian berdasarkan keterangan dari petugas Indom*ret, uang tidak dapat dikembalikan dalam bentuk tunai. Solusinya adalah membeli barang lain seharga barang pesanan sebelumnya. Wooooshah!
Menurut Ais (sie pembelian), kalau beli di toko online Bukalap*k biasanya langsung dihubungkan dengan pemilik barang dan nanti ada konfirmasi ketersediaan barang. Bukan malah diminta melakukan pembayaran dulu baru dikonfirmasi ketersediaan barang. Sebenarnya kami jengkel dengan Tokop*dia tapi kami juga nggak mau rugi lagi. Setelah melakukan diskusi singkat, tercetuslah ide untuk membeli pulsa sebesar uang yang sudah ditransfer. Sejak saat itu Ais sebagai juru hubung dengan Tokop*dia mulai berjualan pulsa. Siapa pun yang memakai kartu Telkomsel bisa membeli pulsa lewat Ais. Nantinya Ais akan mentransfer pulsa ke nomor pembeli. Syukurlah dagangan pulsa kami lumayan laris setelah koar-koar dan sedikit maksa ke teman-teman supaya cepat-cepat beli pulsa lewat kami. Ini adalah jalan terbaik uang kami kembali mewujud.
Kejadian macam begini bisa saja karena kami yang kurang teliti, tapi kami tetap meyakini bahwa kami adalah korban kecelakaan sistem belanja online. Pesan dari kami, baiknya lebih cermat kalau hendak berbelanja secara online. Jangan asal klak klik klak klik terus langsung bayar aja. Ada baiknya memastikan dulu barang yang dipesan benar-benar ada wujudnya dan yang paling penting adalah pilih situs belanja online  yang sudah terbukti pelayanannya.
Sejak saat itu setiap kali mendapati iklan toko online tadi, spontan kami teringat dengan segala keabsurdan pendakian waktu itu. Hei! Bisa jadi kompor itu sebenarnya ditempelin makhluk gaib gunung. Terus akhirnya bisa gerak-gerak pindah sendiri ke laci mejaku, bukan karena aku yang mindahin. Siapa yang tahu. Hahahaha siap-siap dikeroyok mereka beneran kalau gini. Baiklah, mungkin itu saja dulu. Aku harus kembali fokus pacaran sama revisian.