Ed Sheeran - Perfect [Official Audio]
Salah satu soundtrack dansa dengan suamiku kelak! Hahahaha, but absolutely Coldplay is first.Ed Sheeran - Photograph (Official Music Video)
Salah satu lagu yang selalu bikin bahagia dan merasa damai pas ndengerinnya. Begitu jeniusnya Ed Sheeran!
Scarlett O’Hara
Bulan kemarin ada tiga buku yang ku baca yakni, Agama Saya adalah Jurnalisme karya Andreas Harsono, Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma, dan Scarlett karya Alexandra Ripley. Dari ketiganya, Scarlett adalah novel yang pengin banget
ku bahas. Sangking ngebetnya baca, novel setebal 800 halaman lebih ini ku lahap
hanya dalam waktu 5 hari. Jadi selama liburan ada sekitar 5-7 jam per hari mantengin
buku yang mirip-mirip bantal ini. Oke, lebih tepatnya antara ngebet baca atau
kurang kerjaan.
Sacrlett merupakan
sekuel Gone with The Wind karya
Margareth Mitchell. Bagi yang sudah membaca atau menonton Gone with The Wind pasti ingat di akhir cerita Rhett memilih pergi
meninggalkan Scarlett. Pada saat itu pula Scarlett sadar akan kenaifannya, gadis
itu sebenarnya sangat mencintai suaminya sendiri, Rhett Butler. Nah, novel Scarlett yang berakhir bahagia bisa
diibaratkan semacam obat sakit hati untuk para penikmat Gone with The Wind. Novel yang berjudul sama dengan nama tokoh
utamanya, Scarlett, bercerita mengenai
perjuangan Scarlett O’Hara mendapatkan kembali sang suami sekaligus tanah
leluhur O’hara hingga ia menemukan jati dirinya.
Banyak hal yang berubah dalam diri Scarlett, terutama karakternya yang
jauh berbeda antara Scarlett di Gone with
The Wind dan Scarlett di Scarlett.
Scarlett dalam Gone with The Wind
adalah seorang gadis cantik pujaan para laki-laki, sosok manja, egois,
pendengki, kekanakan, pelanggar norma, dan gila akan pesta. Scarlett termasuk jenis orang yang tahu cara membuat dirinya dicintai namun tidak tahu cara
mencintai. Sedangkan sifat baiknya, dia tipe perempuan pekerja keras, bahkan
kemampuannya dalam bekerja melebihi sebagian para laki-laki, terutama
menyangkut bisnis. Satu lagi sifat Scarlett yang bagi saya menarik, dia sama
sekali tidak peduli dengan semua omong kosong orang-orang di sekitarnya.
Karakter Scarlett yang tanpa basa-basi seperti ini tentu saja membuat para
wanita di sekelilingnya sering bergunjing tentang dirinya. Scarlett dianggap
perempuan tidak tahu malu, tidak tahu sopan santun, pembangkang, penentang
adat, penghianat, penggoda suami orang, dan label mengerikan lainnya. Amerika
bagian selatan pada masa perang saudara memang belum ada aturan kesetaraan gender, perilaku Scarlett yang terlalu
bebas, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, tentu saja menjadi bahan olok-olok
para wanita. Tapi seperti yang sudah dijelaskan, Scarlett sama sekali tidak
peduli hingga akhirnya ia dikucilkan oleh masyarakat sekitar.
Dalam novel Scarlett, sosok
Scarlett mengalami perubahan karakter yang cukup kentara. Hal ini bermula saat
ia mulai putus asa dengan Rhett dan memutuskan untuk berkunjung ke rumah
kakeknya di Savannah. Di kota itu Scarlett mulai mengerti asal sifat lembut dan
anggun mendiang ibunya. Kakek Robillard, ayah dari ibunya, merupakan laki-laki
kaya raya, terhormat, yang menerapkan banyak aturan di rumahnya. Pantas saja
mendiang ibunya begitu anggun dan bersikap seperti perempuan dewasa seutuhnya.
Sejak dulu memang Scarlett merasa iri dan bertanya-tanya mengapa mendiang
ibunya bisa begitu lembut, anggun, terhormat, dan penuh kasih bak malaikat
sedangkan dirinya tidak? Lalu suatu hari Scarlett bertemu dengan keluarga garis
keturunan ayahnya, para O’hara, di Savannah. Dari mereka Scarlett akhirnya
menemukan sebab segala sikap dan sifat dirinya yang selama ini menjadi bahan
gunjingan masyarakat. Ya, karakter Scarlett yang berapi-api dan loyal rupanya merupakan
warisan dari keluarga O’Hara. Ini kali pertama Scarlett merasa diterima dan
bahagia menjadi diri sendiri, bersama mereka Scarlett benar-benar menikmati
hidup tanpa harus takut dihakimi. Ia menjadi pribadi yang telah mengenal akan
jati dirinya.
Tanpa disadari saat di Savannah Scarlett berjalan menuju akar dirinya.
Selain itu perubahan karakter Scarlett juga dipengaruhi oleh tanggung jawab
yang harus diemban dan banyaknya masalah yang datang silih berganti. Saat di
Irlandia Scarlett mendapat surat perceraian dari suaminya, dikabarkan pula
Rhett telah menikahi seorang gadis baik-baik. Scarlett benar-benar hancur saat
itu, apalagi tanpa sepengetahuan Rhett ia tengah mengandung anak mereka.
Setelah mendapat surat perceraian dari sang suami
ia mengakui bahwa ini merupakan salahnya sendiri. Ini memang kali pertama Scarlett tidak menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dalam hidunya. Scarlett pun memutuskan untuk
merawat anaknya seorang diri. Ia membeli tanah leluhurnya di Irlandia dan
diangkat menjadi seorang pemimpin kaum O’Hara. Kewajiban menjadi pemimpin
sekaligus seorang ibu membuat cara berpikir Scarlett lebih matang dan penuh
kasih. Kelahiran anaknya mengajarkan Scarlett cara mencurahkan kasih sayang, ia
akhirnya tahu caranya mencintai orang selain dirinya. Suatu perubahan yang
signifikan mengingat Scarlett yang dulu sangat membenci anak kecil, bahkan kedua
anaknya sendiri sering tak ia perhatikan.
Selain itu, kedudukannya sebagai seorang pemimpin membuatnya belajar
untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri. Ia belajar berbagi, mengalah, berkompromi,
dan hidup untuk orang lain. Seperti yang ia lakukan untuk kaumnya, saat terjadi
bencana gagal panen, ia membagikan sembako untuk kaumnya supaya tak kelaparan. Hingga
suatu ketika Scarlett tahu ini saatnya ia harus merelakan Rhett. Sikap semacam
itu tentu sangat berbeda dengan Scarlett yang dulu, yang melakukan segala cara
agar bisa mendapatkan Ashley meskipun laki-laki itu merupakan suami adik
iparnya sendiri. Kini Scarlett tahu dirinya sangat mencintai Rhett dan ia belajar mencintai dengan cara melepaskan Rhett.
Perlu diingat, Scarlett tetaplah Scarlett, ia tetap seorang perempuan
yang energik, pekerja keras, blak-blakan, tangkas, dan cerdas. Hal inilah yang membuat
para laki-laki takluk padanya yang seorang janda beranak satu dengan usia
kepala tiga. Bedanya, kalau dulu ia akan menyambut semua laki-laki yang
mendekatinya, sekarang ia selektif dan lebih mementingkan anaknya.
Kehidupan Scarlett tak ubahnya seperti perjalanan seseorang menuju
kedewasaan. Untuk menjadi bijak, Scarlett harus mau menempuh perjalanan.
Perjalanan menuju dirinya sendiri dan perjalan ke luar dirinya. Dengan begitu Scarlett
lebih mengenal jati dirinya sekaligus mengenal lingkungan di luar dirinya. Apabila
kedua perjalanan itu seimbang, didapatlah banyak kacamata baru, berbagai sudut
pandang baru, yang menjadikan Scarlett lebih bijak dalam beberapa hal. Pilihannya
untuk menerima lamaran bangsawan Inggris bagi saya juga salah satu bukti bahwa Scarlett
belum sepenuhnya bijaksana, rupanya masih jauh perjalanan hidup yang mesti
ditempuh untuk menjadi lebih bijak.
Akhirnya, meskipun novel Scarlett
merupakan lanjutan dari Gone with The
Wind namun rasanya aneh ketika tahu kedua novel tersebut karya dari orang
yang berbeda. Seperti yang sudah disebutkan di awal, novel Scarlett seperti obat sakit hati bagi mereka yang merasa kecewa
dengan akhir Gone with The Wind. Jadi,
kebahagiaan setelah membaca Scarlett terasa kurang nyata karena kemunculan novel
tersebut kesannya juga agak dipaksakan.
Pertemuan Dua Orang Gila
Aku bertaruh
siapa pun yang nonton film garapannya Christoper Nolan bakal berakhir dengan kepala
nyut-nyutan sangking mikir terus dari
pembukaan sampe tamatnya film. Ya, aku jatuh cinta sama Nolan setelah nonton Inception pas zaman SMA, pikirku waktu itu, “Astaga
ini film keren banget!” Dari ide cerita, karakter tokohnya, plot cerita, ending
nggantungnya, pokoknya semuanyaaaa bikin klepek-klepek. Lalu aku
makin kesengsem setelah nonton Trilogi The
Dark Knight, Prestige, Interstellar, Memento.
Untuk film-filmnya yang lain masih dalam proses untuk ditonton (better late than never). Bagaimana pun
dari film yang udah ku tonton, semua menggambarkan betapa cerdas dan ajaibnya sutradara
yang satu ini. Yah, walaupun harus aku akui belum ada yang ngalahin The God Father dalam hidupku.
Kenapa jadi
bablas ngomongin Nolan?
Jadi ceritanya
beberapa hari yang lalu aku baru nonton Memento,
Tinker Tailor Soldier Spy, Gone with The
Wind, Bitvaza Sevastopol, beberapa film lawas yang jauh dari kisah komedi
romantis. Terkadang setelah nonton film serius macam tadi, pikiranku haus akan
film macam komedi romantis. Jadilah aku kumpulin film-film jenis drama romantis,
salah satunya keluaran tahun 2012, Silver
Linings Playbook.
Film Silver Linings Playbook merupakan adapatasi dari novel dengan judul
yang sama karya Matthew Quick, disutradarai David O. Russel yang merangkap
penulis naskah. Cerita dimulai dari seorang laki-laki bernama Pat (Bradley Cooper)
yang menderita bipolar dan dirawat di rumah sakit jiwa. Delapan bulan kemudian,
Sang Ibu datang menjemputnya. Pat diperbolehkan pulang dengan beberapa syarat.
Sebenarnya Pat dimasukkan ke rumah sakit jiwa setelah memukuli selingkuhan
istrinya hingga hampir mati. Atas kejadian itu Pat kehilangan pekerjaan
sekaligus istrinya.
Sekembalinya
Pat ke rumah, suatu hari ia bertemu sahabat lamanya, Ronnie, yang langsung mengundangnya
makan malam. Saat makan malam itulah Pat bertemu dengan adik ipar Ronnie,
Tiffany (Jennifer Lawrence), janda yang juga menderita gangguan mental sejak
suaminya meninggal. Dari sinilah kehidupan Pat mulai berubah, cerita menjadi
semakin menarik dan lucu. Aku tertawa melihat kegilaan Pat, Tifanny, dan
orang-orang di sekitar mereka.
Ada banyak
adegan yang membuatku tertawa ketika menontonnya. Dimulai dari kemunculan
Danny, teman Pat yang selalu mengaku telah dikeluarkan dari rumah sakit jiwa
padahal belum. Kelucuan keluarga Pat, ayahnya penggemar tim football Eagle dan
masih percaya tahayul ketika memasang taruhan. Aku juga tertawa saat adegan Pat
selesai membaca novel karya Hemingway, dia marah-marah mendapati ending cerita
novel itu ternyata menyedihkan. Dia protes kenapa Hemingway tidak menulis akhir
yang bahagia setelah segala penderitaan para tokohnya? Aku sependapat denganmu,
Pat! Sama seperti Pat, aku selalu percaya akan adanya garis-garis perak yang
membelah langit kelabu.
Adegan
menggelikan juga terjadi ketika pengumuman nilai kompetisi menari. Seluruh
keluarga Pat dan Tifanny bersorak ketika skor rata-rata tarian Pat dan Tifanny
adalah 5. Para peserta lomba heran karena 5 adalah skor paling jelek dari total
nilai 10. Mereka tidak tahu, Ayah Pat baru saja memenangkan taruhan besar karena
perolehan skor anaknya itu. Oh ya, dan gerakan dansa mereka… Emmmm…. Hahahahaha.
Melalui film
ini kita sedikit bisa memahami apa saja yang dialami oleh orang-orang penderita
bipolar. Dari Pat dan Tifanny aku melihat orang-orang gila seperti mereka
justru hidup dengan lebih jujur. Mereka tak pernah berpura-pura. Tidak seperti
Ronnie, orang waras kebanyakan yang hidup dalam kepura-puraan. Ronnie selalu
merasa tertekan dengan hidupnya, pekerjaannya, istrinya, anaknya, cicilan
rumahnya, blab bla bla. Sampai di suatu momen Pat dengan bijaksana menasihati
Ronnie supaya lebih bersyukur. Selain itu ada lagi yang aku suka dari film ini,
yakni ketika kencan pertama Pat dan Tifanny. Setelah membuka diri, Tifanny
marah-marah dengan reaksi Pat yang spotan memberikan penilain buruk padanya.
Dia bilang, “Aku sudah terbuka kepadamu dan kamu menghakimiku!”
Di sepanjang cerita film ini, kita bisa melihat tanda-tanda bahwa sebenarnya Pat jatuh hati pada Tifanny. Tapi semuanya baru terungkap jelas di akhir cerita ketika Tifanny membaca surat dari Pat. Begini surat Pat untuk Tifanny.
Di sepanjang cerita film ini, kita bisa melihat tanda-tanda bahwa sebenarnya Pat jatuh hati pada Tifanny. Tapi semuanya baru terungkap jelas di akhir cerita ketika Tifanny membaca surat dari Pat. Begini surat Pat untuk Tifanny.
Dear
Tifanny,
I know
you wrote the letter. The only way you could meet my crazy was by doing
something crazy yourself. Thank you. I love you. I knew it the minute I met
you. I’m sorry it took so long for me to catch up, I just got stuck
Pat.
Begitu manis
pengakuan Pat.
Terkadang
memang hanya orang gila yang mampu mengerti kegilaan orang lain. Kegilaan yang
bagi sebagian orang justru merupakan suatu kewarasan. Semoga untuk orang-orang
setengah gila di luar sana (termasuk aku) menemukan seseorang yang mengerti
akan kegilaannya.
Remidi Belanja Online
Sebenarnya
niat awal pengin posting ulasan buku, tetapi berhubung bukunya
belum ku baca sampai rampung,
ku tulis saja kisah remeh-temeh
pengalaman kami belanja di toko online yang berakhir menggelikan. Semoga
saja tulisan ini bisa membantu siapa pun yang akan belanja online supaya terhindar dari kibul-kibulan. Jangan sampai
seperti kami yang uang hilang barang pun melayang. Di sini nama toko onlinenya kami samarkan, sebut saja
Tokop*dia, itu lho yang iklannya pakai nyanyi-nyanyi segala pas nyebut nama
tokonya. Buat yang suka mantengin iklan di tivi pasti ngertilah maskudku.
Tersebutlah empat orang perempuan bernama Titi, Arnisyah (Ais),
Boangmanalu (Iko) , dan Esdaniar (Dani) baru saja pulang dari pendakian. Kalau
diingat-ingat lagi pendakian kala itu adalah yang paling mengenaskan. Puncak
badai, pasak tertinggal, tenda hampir kabur ke jurang, kehabisan spiritus,
hingga berakhir dengan tidur di pos evakuasi. Sepanjang perjalanan pulang kami
menertawakan kekonyolan itu. Poin dari kisah ini sebenarnya adalah ketika
kompor spiritus super duper langka mendadak lenyap. Kami berempat ribut geledah
tas, plastik, sampai tong sampah depan kos ku bongkar isinya (Bu Yoto saksinya),
tapi tetap saja nggak nemu kompornya.
Ketika kami bermaksud membeli kompor baru, toko E*ger se-Solo Raya kehabisan
stock, begitupun toko-toko online. Jadilah
kompor itu begitu berharga di mata kami melebihi perpustakaan dan seluruh
isinya. Kami hampir saja putus asa sebelum akhirnya kami buka situs Tokop*dia
dan taraaaaaaa masih ada satu stok barang yang kami cari. Betapa leganya kami,
apalagi ada promo potongan harga. Kami pesan kompornya dan langsung kami bayar
sesuai harga. Ironisnya, kurang dari 24 jam dari pembayaran, kompor yang kami
kira hilang jatuh begitu saja dari laci meja belajarku. Siapa sangka kompor
yang begitu mungil itu tercampur dengan puluhan baterai headlamp di plastik. Aku hampir aja dikeroyok masa (Ais, Iko, Dani)
karena kejadian ini.
Kita lewati saja drama penemuan kompor. Langkah penting yang harus
segera dilakukan adalah membatalkan pembelian kalau masih bisa. Kami ‘klik’
Tokop*dia dan muncullah keterangan barang yang kami pesan stok kosong.
Bahagianya membayangkan uang kami akan kembali. Esok harinya kami segera
menanyakan prosedur pengembalian uang ke tempat pembayaran kami (Indom*ret)
karena e-mail yang masuk dari
Tokop*dia memiliki pengaturan tidak dapat berbalas pesan. Semacam komunikasi
satu arah. Kemudian berdasarkan keterangan dari petugas Indom*ret, uang tidak
dapat dikembalikan dalam bentuk tunai. Solusinya adalah membeli barang lain
seharga barang pesanan sebelumnya. Wooooshah!
Menurut Ais (sie pembelian), kalau beli di toko online Bukalap*k biasanya langsung dihubungkan dengan pemilik barang
dan nanti ada konfirmasi ketersediaan barang. Bukan malah diminta melakukan pembayaran
dulu baru dikonfirmasi ketersediaan barang. Sebenarnya kami jengkel dengan
Tokop*dia tapi kami juga nggak mau rugi lagi. Setelah melakukan diskusi
singkat, tercetuslah ide untuk membeli pulsa sebesar uang yang sudah
ditransfer. Sejak saat itu Ais sebagai juru hubung dengan Tokop*dia mulai
berjualan pulsa. Siapa pun yang memakai kartu Telkomsel bisa membeli pulsa
lewat Ais. Nantinya Ais akan mentransfer pulsa ke nomor pembeli. Syukurlah
dagangan pulsa kami lumayan laris setelah koar-koar dan sedikit maksa ke
teman-teman supaya cepat-cepat beli pulsa lewat kami. Ini adalah jalan terbaik
uang kami kembali mewujud.
Kejadian macam begini bisa saja karena kami yang kurang teliti, tapi
kami tetap meyakini bahwa kami adalah korban kecelakaan sistem belanja online. Pesan dari kami, baiknya lebih cermat kalau hendak berbelanja secara online.
Jangan asal klak klik klak klik terus langsung bayar aja. Ada baiknya
memastikan dulu barang yang dipesan benar-benar ada wujudnya dan yang paling
penting adalah pilih situs belanja online
yang sudah terbukti pelayanannya.
Sejak saat itu setiap kali mendapati iklan toko online tadi, spontan kami teringat dengan segala keabsurdan
pendakian waktu itu. Hei! Bisa jadi kompor itu sebenarnya ditempelin makhluk
gaib gunung. Terus akhirnya bisa gerak-gerak pindah sendiri ke laci mejaku,
bukan karena aku yang mindahin. Siapa yang tahu. Hahahaha siap-siap dikeroyok mereka beneran kalau gini. Baiklah, mungkin itu saja dulu. Aku harus kembali fokus pacaran sama revisian.
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentang Penulis
Titi Setiyoningsih. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Tulisanku:
https://www.wattpad.com/myworks/165208900-pengeran-senja-tamat
Ikuti saya
https://www.facebook.com/titi.setiyoningsih
