KRITERIARRRS


Beberapa hari yang lalu seorang teman berkata, “Laki-laki itu lebih milih perempuan yang pinter. Buat apa cantik tapi otaknya kosong?” Mendadak aku teringat, sekitar tiga atau empat tahun yang lalu temanku yang lain justru berujar, “Laki-laki itu takut sama cewek pinter, mereka lebih seneng yang cantik meskipun nggak pinter-pinter amat/malah sedikit lamban.” Dua opini yang kontradiktif kan? Kemudian menanggapi teman yang pertama tadi, saya menjawab, “Menurutku laki-laki bakal cenderung ke cewek yang mau belajar.” Saya kira, di antara tiga pendapat tadi tidak ada yang salah atau benar. Semuanya mungkin benar dan bisa jadi semuanya justru salah. Berbagai hal di dunia ini bukan sesuatu yang serta merta seperti hitam dan putih, benar atau salah. Ada beberapa hal yang akan selalu berwarna abu-abu, begitu pun perkara selera seorang laki-laki.

Katakanlah, setiap orang memiliki tipe/pandangan/penilaian yang berbeda terhadap lawan jenisnya. Ada laki-laki yang suka cewek smart banget nggak peduli tampilan fisiknya. Ada juga yang lebih mengutamakan tampilan fisiknya masalah otak belakangan. Namun ada pula yang mau dua-duanya, ya pinter, ya cantik (ya sholehah, ya kaya raya, ya anak menteri, terus ajaaaaaa). Lalu kebanyakan laki-laki lebih suka yang kombinasinya “pas”. Kata “pas” di sini juga relatif ya misalnya, “Okelah soal fisik dia sedang, soal kecerdasan juga sedang, yang penting pinter masak”. Kombinasi ini menyangkut jutaan elemen yang lebih rumit ketimbang yang sudah saya paparkan tadi. Gampangnya, ada yang suka kopi pahit, ada yang suka gulanya banyak, ada yang suka kopi pakai creamer, eh malah ada yang lebih suka air putih (mengingat betapa menyehatkannya air putih). Intinya sih semua relatif!

Malah beberapa contoh nyata ku amati beberapa laki-laki sebenarnya lebih suka sama yang montok, terus dapatnya malah kurus, atau kebalikannya. Terus pertanyaannya “Katanya mereka suka yang montok, ko malah pilih yang kurus sih?”  Nggak sesimpel itu gengs! Bisa jadi Si Perempuan nggak sesuai kriteria Si Laki-laki tapi punya kelebihan lain yang membuat Si Laki-laki akhirnya mantap. Ada juga “Eh katanya dia suka yang pakai jilbab, kok malah nikah sama yang nggak pakai jilbab?” Hell Oooww, bisa jadi ibadahnya/ karakternya/ sifatnya/ dan tetekbengek lainnya justru melebihi yang berjilbab. Hemmmmmmmmm.

Tapi kenapa di awal tadi saya berpendapat mereka kaum adam MUNGKIN cenderung ke yang “mau belajar”? Simpel aja sih, ada beberapa ku lihat seorang bapak pendidikan sampai S-1 tapi istrinya hanya tamatan SMA, ada juga yang suaminya lulusan S-1 malah punya istri lulusan S-3, ada juga yang cerdas dan berpangkat tapi punya istri “ndeso” bahkan tidak bisa membaca. Well, bagi kalian yang kutu buku dan jarang melihat contoh nyata, bacalah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Tokoh Nyi Ontosoroh,  perempuan “ndeso”, pemalu, penakut, dekil, kotor, kurang beradab (bagi kaum barat) dinikahi/dipinang/diambil oleh seorang Belanda pejabat pabrik gula. Nyi Ontosoroh diajari membaca oleh suaminya, diajari cara berpakaian yang cantik/rapi, diajari pakai sandal, diajari beberapa adab barat, hingga akhirnya ia menjadi sosok perempuan yang cerdas nan anggun.

Saya amati, keawetan hubungan beberapa pasangan tadi dikarenakan masing-masing mau belajar. Jenis belajar bukan hanya belajar untuk kecerdasan kognitif ya. Belajar di sini cakupannya luas, yakni mencakup kecerdasan emosional juga spiritual. Katakanlah perbedaan derajat pengetahuan antara si laki-laki dan perempuan ternyata bukan jadi masalah, atau perkara fisik juga bukan jadi masalah, asal masing-masing sanggup mau belajar. Belajar berkompromi, belajar mengimbangi, belajar untuk tampil cantik, belajar untuk lebih sholehah, belajar untuk menghargai usaha pasangan, belajar untuk sabar, belajar hal-hal yang diketahui oleh sang suami, dan lain sebagainya.

Beberapa kali saya juga mendapat opini dari teman-teman yang sudah menikah intinya, “Cari pasangan yang nyambung diajak ngobrol, kalau kalian tua nggak ada yang bisa dilakuin lagi selain ngobrol.” Hemmmmm, masuk akal sih. Saya amati Ibuk Kos di Solo dan Bapak Kos yang masing-masing usianya sudah kepala tujuh saban hari nyambung karena obrolan. Tapi yang mereka obrolkan bukan teori atau filosofi, bukan juga gugusan rumus matematika atau perkembangan ilmu dunia barat. Mereka ngobrol soal remeh temeh seperti, “Eh Ibuk sebelah mau mantu…” “Si Cucu katanya sering rewel ya…” “Sirahku kok kleyengan ya…” “Ayam tetangga mati misterius…” “Anak kos laki-laki itu lho kalau bayaran angel tenan ditarik.” See? Mereka sudah tidak cantik/ganteng/charming lagi, mereka juga tidak berdiskusi soal ilmu pengetahuan yang rumit. Mereka hanya berkomunukasi secara sederhana. Ya tapi mungkin kalau yang sama-sama profesor, bisa jadi pas tua mbahas research and development, atau yang makin tua makin cantik karena plastik. Kembali lagi semuanya relatif. Lalu jauuuhhh di pemikiranku, justru ada yang tidak bisa ngobrol pas tua karena masing-masing udah kena penyakit kuping tua (mulai tuli) tapi mereka awet dan rukun aja tuh. Nah loh! Intinya ada kemauan untuk belajar, utamanya belajar bersabar dan bersyukur.

Tentang menilai seorang perempuan, ada sebuah hadist yang bunyinya ““Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)".
Ayo sama-sama belajar untuk menjadi yang lebih baik versi kalian! Saya pun masih jauuuuuuuhhhh dari kata “baik”. Kesimpulannya, jangan pernah merasa berkecil hati tapi juga jangan malah sombong/congkak. Apalah kita ini dari milyaran perempuan lainnya ciptaan Allah SWT yang pastinya banyak dari mereka lebih baik dalam segala bidang. Terakhir, percayalah Tuhan bakal ngasih yang terbaik versi-Nya untuk kita.
Psst, kalau lagi butuh refresh otak, buka aja wattpad saya:
https://www.wattpad.com/645372573-pengeran-senja-3/page/4

CATATAN PINGGIR 2




Di suatu sore yang sangat santai, terlalu santai dan malas untuk melakukan apa pun, seseorang berujar padaku, “Rumah bukan hanya sekadar bangunan tempatku pulang. Rumah bagiku juga tempat mencurahkan segala keluh kesah, kepenatan duniawi, dan mampu memberikan kenyamanan. Tempatku kembali merasakan ketenangan.”

Dari percakapan itu dia mendefinisikan kata “rumah” bukan hanya sebagai kata benda, tapi juga kata sifat. Hal ini membuat kosakata dalam bahasa Indonesia terasa kurang. Jika dalam bahasa Inggris kita bisa menemukan house dan home yang keduanya jika diartikan dalam bahasa Indonesia sama-sama berarti rumah, tapi memiliki fungsi pemakaian yang berbeda. House merujuk ke rumah sebagai sebuah bangunan, sedangkan home merujuk ke kata sifat.

Topik tentang “rumah” membawaku kembali pada kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Daerah. Saat itu aku mewakili kampusku mengikuti lomba cabang menulis cerpen tingkat Jateng. Ketika memasuki waktu lomba, juri meminta peserta menulis cerita dengan tema “rumah”. Aku kira di sini juri juga ingin melihat seberapa luas imajinasi peserta mengartikan kata “rumah”, entah rumah sebagai house, home, atau yang lainnya yang tak terduga.

Lalu aku juga teringat dengan film berjudul Brooklyn. Film tersebut merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Tom Toibin. Berkisah tentang seorang gadis Irlandia yang harus memilih antara Amerika, tempatnya bekerja atau kampung halamannya, yakni Irlandia. Ia harus menentukan tempat yang akan menjadi home baginya. Tidak hanya soal memilih rumah berupa tempat tinggal, pilihannya itu juga menentukan antara dua laki-laki yang siap menjadi rumah baginya. Rumah yang bukan sekadar house tapi juga merupakan sebuah home.

Dari itu semua, aku jadi banyak berharap ada kosakata baru dalam bahasa Indonesia untuk penyebutan “rumah” menjadi lebih spesifik yang membedakan antara sebuah benda dan sifat. Alangkah kata tersebut pasti akan menjadi salah satu jenis kata romantis yang diucapkan seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya.

nb: yang penasaran sama film Brooklyn, ini dia link trailer-nya.
https://www.youtube.com/watch?v=15syDwC000k

CATATAN PINGGIR 1


Surabaya, 30 Mei 2018

Aku kelelahan. 
Sepulang kerja, seusai salat ashar, aku milih tidur dan bangun-bangun udah jam 17.00. Pikirku, ya udah hari ini buka puasa di kos aja sama eyang kos atau ke mushola dekat kos. Rencana keliling hari ini juga nggak mungkin terlaksana karena motorku lagi rewel dan nginep di kos teman (baca: Mba Kinanti). Seusai magrib, sekembalinya dari mushola, makan nasi kotak dan roti di ruang tv. Waktu itu hanya aku, Mba Daisy, dan Eyang Upik. Sekitar habis isa, Eyang Toto keluar kamar, niatnya mau mandi, tapi parkir dulu di depan tv. Kedatangan Eyang Toto membawa obrolan yang super panjang. Aku lupa awalnya, pembicaraan kami melebar ke segala penjuru. Ini mengingatkanku pada Eyang Yoto (bapak kos di Solo), ternyata karakter mereka hampir sama. AKu jadi merasa nyaman ketika ngobrol tentang berbagai topik. Seingatku pembicaraan kami dimulai dari basa-basi ringan tentang menu berbuka, kegiatanku akhir-akhir ini, juga tentang tempat wisata. Lalu topik obrolan mengarah ke kisah konflik Madura-Kalimantan. Apalagi Eyang Toto pernah di Kalimantan Tengah selama 4 tahun, jadi beliau bisa cerita beberapa hal penyebab konflik dan penyelesaiannya. Dari kisah itu berlanjut ke cerita ilmu gaib, keris, sampai sejarah kerajaan Singosari. Dari Singosari kami meluncur ke sejarah keraton Solo-Jogja, sampai huru-hara Tionghoa. Banyak hal yang kami bicarakan, tidak terarah memang, tapi aku jadi punya sudut pandang baru mengenai suatu hal. Obrolan kami ditutup dengan isu politik dan sejarah perkembangan politik singkat.

Oke, sebenarnya bukan obrolan sih, lebih tepatnya aku yang nyimak cerita Eyang Toto. Ada jeda ketika es blewah kami berdua habis, Eyang Toto harus mandi, dan aku melanjutkan chit-chat sama Mbak Daisy dan Eyang Upik. Tak berapa lama Eyang Toto muncul lagi dengan penampilan lebih fresh setelah mandi. Kami melanjutkan pembicaraan tentang bisnis, kiat berwirausaha, dan Eyang Toto memberi beberapa tips menarik kepadaku. Sekitar pukul 22.00, aku pamit terbang ke lantai 2 menuju kamarku. Sebelum aku take off Eyang Toto bertanya, “Punya buku harian?

Ku jawab, “Punya, Yang, tapi sekarang udah jarang nulis.”

“Tulis tentang ini ya, kan jarang ngobrol banyak hal tadi. Terutama tentang rencana dan ide-idemu itu. Jangan dimatikan, kamu pacu terus.”

Aku meringis, “Iya, Yang, nanti saya mulai nulis lagi deh. Dulu tiap hari nulis, sampai di rumah ada berjilid-jilid buku harian dari SMA.”

“Iya, bagus itu. Biar kamu nggak lupa sama pemikiran-pemikiranmu.”

“Gitu ya, iya sih, Yang. Ya udah habis ini saya mulai rajin nulis buku harian lagi. Kebetulan saya punya buku harian dikasih sama temen.”

“Bagus itu.”

TENG! Oke, sudah saatnya aku mulai nulis buku harian lagi. Setelah sekian lama. Kenapa aku sempat berhenti? Karena ketika aku kembali membaca buku harianku yang dulu, aku merasa malu dan geli mengingat betapa alay, betapa aku pernah sangat muda, berkobar, dan sangat egois. Hal itu membuatku malu. Kadang ada kalanya kita tak ingin lagi mengingat suatu kisah yang terjadi dalam hidup kita, lalu ketika kamu membaca buku harianmu, kamu akan mengingatnya dengan perasaan campur aduk. Hanya saja setelah malam ini aku harus kembali menjadi manusia penulis buku harian. Makasih Eyang Toto.
Welcome back:  "Dear Diary".

Surabaya

Sendirian. Kangen rumah.

Perspektif Kebenaran


https://thane62.files.wordpress.com/2016/04/bridge-of-spies-2015-the-exchange-ending-review-stephen-spielberg.jpg?w=788


Bridge to Spies (2015), film yang disutradarai oleh Steven Spielberg, mengingatkan saya tentang pertanyaan makna kebenaran. Film ini diangkat dari kisah nyata pada masa perang dingin Amerika dan Soviet. Tentang seorang pengacara Amerika, James B. Donovan (Tom Hanks), yang mendapat tugas untuk membela seorang mata-mata Soviet  bernama Rudolf Abel (Mark Rylanve). Sebelumnya Rudolf ditangkap oleh pihak Amerika dan diberi dua pilihan. Pertama, bila Rudolf mau bekerjasama untuk pihak Amerika ia akan dibebaskan dari hukuman dan mendapatkan imbalan. Kedua, jika dia menolak tawaran pertama tadi dia akan diadili dan kemungkingkan besar dihukum mati. Rudolf pun memilih untuk diadili ketimbang harus menghianati negaranya. Bisa ditebak pengadilan Amerika menangani kasus Rudolf hanya sebagai formalitas saja. Bahkan sejak awal sang hakim sudah bersikap tidak obyektif, apa pun pembelaan Rudolf rakyat Amerika tentu menganggap mata-mata Soviet pantas dihukum mati. Donovan yang ditunjuk sebagai pengacara Rudolf tentu mengadapi tekanan batin sekaligus sosial. Donovan ingin bekerja secara profesional sebagai seorang pengacara tapi konsekuensinya masyarakat Amerika akan menuduhnya sebagai seorang penghianat. Bahkan ketika agen CIA berusaha mencari informasi Rudolf kepada Donovan, pengacara itu tetap kukuh untuk tak membeberkan hasil percakapannya dengan si client. Dari sinilah awal mula konflik yang terjadi dalam film.
Muncul suatu pertanyaan akan sikap yang diambil oleh Rudolf dan Donovan: salahkah pilihan mereka? Mereka dibenci rakyat Amerika kerena Rudolf yang ingin setia pada negaranya dan Donovan yang ingin bersikap obyektif dan profesional menjalankan tugasnya. Misalnya saja kita sebagai rakyat Indonesia mendapat berita seorang mata-mata negara tetangga ditangkap oleh badan intel negara. Mata-mata negara tetangga itu menolak bekerja sama dan tetap memilih tidak membocorkan rahasia negaranya. Lalu apa yang muncul dalam benak setiap warga Indonesia? Mata-mata negara tetangga dianggap bersalah karena tidak mau membocorkan informasi negaranya? Pengacara asal Indonesia yang membela mata-mata dianggap penghianat? Akankah pengadilan negara kita bersikap adil? Lalu di berbagai media sosial akan ada banyak status dan komentar nyinyir tentang negara tetangga, si mata-mata, dan sang pengacara tadi. Saya juga tidak menjamin diri saya akan bijak menanggapi kasus tersebut. Saya bisa membayangkan hal pertama yang saya rasakan jika mendapat berita tadi adalah geram dengan negara tetangga, muak dengan mata-mata negara tetangga yang tertangkap itu, juga muak dengan pengacacara yang mati-matian membela si mata-mata. Salahkah saya?
Tengoklah para tokoh cerita wayang kita, di antaranya ada Kumbakarna (Ramayana) dan Bhisma (Mahabarata). Sejak awal Kumbakarna tahu bahwa yang dilakukan oleh kakaknya (Rahwana) salah tapi ia tetap maju ke medan perang melawan kubu Rama. Salahkah Kumbakarna? Ia maju ke medan perang untuk membela tanah airnya dan kaumnya. Lalu Bhisma yang memilih berada di pihak Kurawa dalam perang Baratayudha. Ada juga Karna yang tetap mengabdi kepada Duryudana, sahabat yang selama ini memberikannya perlindungan dan penghidupan. Masihkah kita menganggap para tokoh tadi sebagai sosok, katakanlah “musuh kebaikan”? Lalu apakah yang dilakukan Wibisana bisa dianggap benar? Ia berperang melawan negaranya sendiri. Sedangkan ia hidup, tumbuh, makan dan minum dari tanah negaranya. Kita kembali ke tokoh Rudolf. Apabila dia memilih bekerjasama dengan Amerika dan itu berarti menghianati negaranya lalu keputusannya itu dianggap benar? Benar menurut siapa? Jika salah, salah menurut siapa? Adakah salah atau benar dapat diketahui dengan pasti dalam kerumitan hidup manusia? Lalu apa hak kita untuk memberikan bermacam label pada sesama manusia? Toh sama-sama manusia, kecuali kalau….

Pilihan Transportasi dari Banjarnegara ke Surakarta




Salah satu pertanyaan orang yang hendak merantau biasanya adalah “Kalau mau ke sana enaknya naik apa ya?” Maksud kata “enak” tersebut adalah kaitannya dengan tingkat kenyaman, waktu, dan biaya. Setiap orang tentu memiliki pertimbangan masing-masing. Nah, kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang berbagai transportasi yang bisa digunakan dari Kabupaten Banjarnegara ke Kota Surakarta (Solo) atau pun sebaliknya.
Pada tahun 2011, teman-teman saya kebanyakan melanjutkan kuliah di Jogja atau Semarang mengikuti jejak para kakak kelas. Oleh sebab itu sangat sedikit atau bahkan waktu itu tidak ada kakak kelas yang dapat dimintai informasi tentang kehidupan di Solo. Ditambah saya tidak punya sanak saudara di sana dan baru pernah sekali ke kota itu saat masih siswa SD. Jadi saya kira informasi berikut ini dapat membantu para perantau dari Banjarnegara yang hendak ke Solo. Ada 6 opsi transportasi yang pernah saya coba dari Banjarnegara menuju Solo.
1.      Jasa travel
Naik mobil jasa travel merupakan pilihan paling aman dan nyaman untuk pemula. Mobil travel tentu mau mengantar penumpangnya tepat di tempat tujuan. Hanya saja travel dari Banjarnegara ke Solo saat itu (tahun 2011/2012) hanya ada 1 pemberangkatan, yakni jam 07.00, itu pun harus mengantar dulu penumpang tujuan Jogja. Nanti dari Jogja ke Solo hanya ada 2-3 penumpang saja. Perjalanan menggunakan travel sekitar 8 jam karena sampai Solo biasanya sudah jam 15.00. Saya menggunakan jasa travel hanya ketika masih mahasiswa baru. Durasi yang terlalu lama membuat saya tidak lagi memilih travel. Saat itu biaya jasa travel sekitar Rp 70.000-90.000.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJXZYk0v3OImqk2YNCKyBQDk_uEcX4dwVR6489PxAqIc7tpaJ-Z6tgoYlspIDt2DobZPw3U-20hbAruY8Qbx-GGOBVYkIId1rTg-VkZ6ka-pIU3lFQ11XKKzGM_qE1irseWzq3ZiLt6ZZy/s1600/alamattravel+alamat+travel.jpg

2.      Bus PO Handoyo jurusan Purwokerto-Malang
Bus Handoyo jurusan Purwokerto-Malang ada yang lewat terminal Banjarnegara. Ada dua jam keberangkatan bus ini, yakni pukul 15.00 dan 15.30. Nantinya sampai di Terminal Tirtonardi Solo sekitar pukul 22.00, jadi waktu perjalanannya kurang lebih 7 jam. Busnya ber-AC dan nyaman, jenis bus eksekutif. Tarif dari Banjarnegara-Solo adalah Rp 70.000 (2013-2017). Bus Handoyo ini nanti rutenya juga lewat Jogja, dan akan berhenti sejenak di agen Wonosobo, agen Temanggung, dan juga Terminal Secang untuk ISOMA waktu magrib. Nah, dari terminal Tirtonardi ke daerah kampus bisa dengan ojek, taksi, transportasi online atau minta dijemput kawan.
Image result for po handoyo banjarnegara-solo
Add caption

3.      Bus jurusan Purwokerto-Solo
Bus kelas ekonomi ini hanya ada satu keberangkatan, yakni jam 07.30 dari Terminal Banjarnegara. Waktu tempuhnya yakni 7 jam, sedangkan tarifnya Rp 50.000 (tahun 2014).
 4.      Bis jurusan Purwokerto-Semarang, dilanjutkan jurusan Semarang-Solo
Bus kelas ekonomi ini ada setiap jam, bahkan ada yang bilang beroperasi 24 jam. Jika hendak ke Solo, maka bilang ke kondektur hendak turun di terminal Bawen. Nanti dari terminal Bawen pindah Bus jurusan Semarang Solo. Tarif dari Banjarnegara-Bawen yakni Rp 35.000 sedangkan Bawen-Solo Rp 15.000 (2013-2016). Durasi waktunya juga sekitar 7 jam.
Image result for bus jurusan purwokerto-solo
Purwokerto-Bawen
Image result for bus jurusan bawen-solo
Bawen-Solo

5.      Kereta Api dari stasiun Purwokerto
Di Banjarnegara tidak ada stasiun kereta. Jika ingin naik kereta harus ke Kota Purwokerto dulu. Butuh waktu 2 jam untuk ke Purwokerto dengan transportasi umum bus jurusan Wonosobo-Purwokerto dengan tarif Rp 20.000. Dari Terminal Purwokerto bisa naik Gojek (tahun 2017 Purwokerto sudah ada Gojek lho) ke Stasiun Purwokerto. Buka aja alamat web https://tiket.kereta-api.co.id lalu pilihlah kereta api sesuai keinginan saudara menuju Solo Balapan atau Puwosari.
Image result for kereta api purwokerto-solo
Add caption
6.      Kendaraan Pribadi
Wah, kalau dengan kendaraan pribadi kita bisa memuaskan diri menikmati pemandangan alam selama perjalanan Banjarnegara-Solo. Di daerah Temanggung, kita akan melewati jalan berkelok-kelok di antara Gunung Sindoro-Sumbing. Pemandangan alamnya sangat indah, perkebunan teh dan sayur terbentang di kanan-kiri jalan. Kalau cuacanya cerah, Sindoro-Sumbing akan tampak menawan di samping kanan dan kiri. Tidak hanya itu, setelah Temanggung bila lewat jalur Kopeng, kita juga akan disuguhi lereng Gunung Merbabu beserta siluet Gunung Merapi di sampingnya. Dijamin perjalanan tidak akan membosankan. Waktu tempuh dengan kendaraan pribadi hanya sekitar 4-5 jam. Kalau perjalanannya malam hari, pemandangan yang indah tadi justru akan terlihat menyeramkan lho ya.

CATATAN TAMBAHAN:
Sekarang sudah ada bus Eka dan Sugeng Rahayu jurusan Purbalingga-Surabaya lewat Banjarnegara. Setiap hari ada total 6 keberangkatan dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00
Harganya Rp. 70.000 total perjalanan 5-7 jam tergantung kecepatan bus dan tingkat kemacetan.

Image result for jalan temanggung antara sindoro sumbing
Merbabu-Sindoro (Temanggung)



Image result for pemandangan jalan kopeng
Jalan lereng Merbabu (Kopeng)
nb: sumber foto berasal situs google.com